- ODGJ Lempar Batu Pengguna Jalan di Pati Diamankan Polisi
- RSUD Margono Disiapkan Jadi Pusat Layanan Kesehatan Banyumas Raya
- Info Lur! Beasiswa Santri Pemprov Jateng Masih Dibuka
- Rumah Dinas untuk Rakyat, Taj Yasin Jamu Peserta Susbanpim Banser
- Curi Motor di Laweyan Solo, Pemuda Asal Serang Banten Diringkus Polisi
- Gubernur Luthfi Blusukan ke Pasar Wage, Siapkan Revitalisasi Eks Kebakaran
- Purwokerto Half Marathon 2026, Dongkrak Ekonomi dari Ajang Lomba Lari
- Meriah, 6.000 Pelari Ikuti Purwokerto Half Marathon 2026
- 6.000 Pelari Bakal Ramaikan Purwokerto Half Marathon, Ungkit Sport Tourism dan Ekonomi Lokal
- Sedekah Bumi Dukuh Rendole, Muktiharjo Hadirkan Ketoprak, Warga Jaga Tradisi dan Gotong Royong
BPBD Rembang Siapkan Langkah Antisipasi Kekeringan

Keterangan Gambar : Pemkab Rembang telah menyiapkan langkah antisipasi, dalam menghadapi potensi kekeringan pada musim kemarau tahun ini. Dok. Dinkominfo Rembang
Rembang, infojateng.id – Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Rembang telah menyiapkan langkah antisipasi, dalam menghadapi potensi kekeringan pada musim kemarau tahun ini. Hal itu dilakukan lebih dini, guna meminimalkan dampak terhadap masyarakat.
Pelaksana Tugas (Plt) Kepala Pelaksana
Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Rembang, Muhammad Luthfi
Hakim menyampaikan, persiapan telah dilakukan sejak awal, baik dari sisi
anggaran maupun koordinasi lintas sektor.
“Kami menyiapkan anggaran serta
melakukan koordinasi dengan OPD terkait. Selain itu, surat juga telah kami
sampaikan kepada para camat, untuk diteruskan ke desa dalam rangka antisipasi
dan pendataan wilayah rawan,” ujar Luthfi, Selasa (5/5/2026).
Baca Lainnya :
- Peluncuran SIMBA DESA Perkuat Pengawasan Dana Desa 20260
- Pemkab Grobogan Evaluasi Capaian BUMD Triwulan I Tahun 20260
- Perkuat Mesin Birokrasi, Sekda Sumarno Lantik Lima Pejabat Fungsional0
- 241 CPNS Jepara Resmi Jadi PNS, Bupati Witiarso Tekankan Integritas dan Semangat Melayani0
- Nullzsec7 Was Here0
Sebagai bagian dari langkah antisipatif,
pihaknya juga mengacu pada prakiraan cuaca dari Badan Meteorologi, Klimatologi,
dan Geofisika (BMKG), untuk menyusun strategi penanganan yang tepat.
Berdasarkan data BPBD, lanjut Luthfi,
pada 2024 terdapat 67 desa di 14 kecamatan yang masuk kategori rawan
kekeringan. Data tersebut, menjadi dasar dalam menentukan prioritas penanganan
pada tahun ini.
Meski demikian, hingga saat ini belum
terdapat permintaan dropping air bersih dari masyarakat. Kendati begitu,
anggaran untuk kebutuhan tersebut tetap disiapkan.
“Kami siapkan anggaran dropping air
sebesar Rp75 juta, sama seperti tahun sebelumnya, sebagai langkah antisipasi,”
jelas Luthfi.
Pihaknya juga memperkuat kolaborasi
dengan berbagai pihak, sebagai bagian dari pendekatan pentahelix dalam
penanganan kebencanaan. Koordinasi dilakukan bersama DPRD, BUMN, pihak swasta,
Baznas, hingga PMI.
“Penanganan bencana membutuhkan
kolaborasi. Karena itu, kami sudah menjalin komunikasi dengan berbagai pihak,
untuk mendukung upaya penanganan jika dibutuhkan,” tegasnya.
Luthfi menambahkan, dari sisi
ketersediaan air baku, kondisi saat ini masih relatif aman. Sejumlah sumber
mata air utama yang dipantau masih mencukupi untuk kebutuhan masyarakat, meski
pengawasan tetap dilakukan secara berkala.
Sebagai langkah respons cepat,
masyarakat dan pemerintah desa diimbau untuk segera melaporkan, apabila mulai
terjadi krisis air bersih.
“Mekanisme pengajuan dropping air dapat disampaikan melalui pemerintah desa, kemudian diteruskan ke BPBD untuk segera ditindaklanjuti,” pungkasnya. (eko/redaksi)











