- ODGJ Lempar Batu Pengguna Jalan di Pati Diamankan Polisi
- RSUD Margono Disiapkan Jadi Pusat Layanan Kesehatan Banyumas Raya
- Info Lur! Beasiswa Santri Pemprov Jateng Masih Dibuka
- Rumah Dinas untuk Rakyat, Taj Yasin Jamu Peserta Susbanpim Banser
- Curi Motor di Laweyan Solo, Pemuda Asal Serang Banten Diringkus Polisi
- Gubernur Luthfi Blusukan ke Pasar Wage, Siapkan Revitalisasi Eks Kebakaran
- Purwokerto Half Marathon 2026, Dongkrak Ekonomi dari Ajang Lomba Lari
- Meriah, 6.000 Pelari Ikuti Purwokerto Half Marathon 2026
- 6.000 Pelari Bakal Ramaikan Purwokerto Half Marathon, Ungkit Sport Tourism dan Ekonomi Lokal
- Sedekah Bumi Dukuh Rendole, Muktiharjo Hadirkan Ketoprak, Warga Jaga Tradisi dan Gotong Royong
Gubernur Luthfi Sudah Bangun 281.312 Rumah Warga Miskin di Jateng

Semarang, infojateng.id - Pemerintah Provinsi (Pemprov) Jawa Tengah menunjukkan akselerasi signifikan dalam penanganan backlog perumahan. Hingga triwulan I 2026, sebanyak 282.312 unit rumah bagi warga miskin berhasil dibangun. Hal ini menjadi bukti hasil kolaborasi lintas sektor dalam mempercepat pemenuhan hunian layak.
Capaian tersebut merupakan akumulasi pembangunan sepanjang tahun 2025
hingga awal 2026. Pada 2025, realisasi pembangunan rumah mencapai 274.514 unit
yang bersumber dari berbagai skema pendanaan.
Rinciannya meliputi APBN sebanyak 14.454 unit, APBD Provinsi Jawa Tengah
17.510 unit, APBD kabupaten/kota 12.830 unit, CSR dan Baznas 4.012 unit, serta
sumber lainnya sebesar 219.524 unit. Selain itu, terdapat pembaruan data
sebanyak 6.184 unit.
Baca Lainnya :
- Presensi Fiktif, Sekda Jateng Ancam Sanksi Tegas 3.000 ASN Brebes0
- Produktivitas Pekerja Jateng Penuhi Standar Perusahaan Global0
- Bupati Klaten Lantik Pengurus Masjid Agung Al Aqsha, Ini Amanat yang Disampaikan0
- 1.285 Jemaah Haji Cilacap Siap Diberangkatkan ke Tanah Suci, Didominasi Lansia0
- Bupati Jepara Alokasikan Rp200 Miliar per Tahun untuk Perbaikan Jalan0
Memasuki triwulan I 2026, pembangunan kembali bertambah 6.798 unit,
sehingga total capaian mencapai 281.312 unit.
Kepala Dinas Perumahan Rakyat dan Kawasan Permukiman (Disperakim) Jawa
Tengah, Boedyo Dharmawan, mengatakan, capaian tersebut menjadi bagian penting
dalam menekan angka backlog perumahan di Jawa Tengah.
“Pada akhir 2025, backlog perumahan tercatat sekitar 1,33 juta unit.
Berkat upaya kolaboratif, sepanjang 2025 berhasil ditekan sekitar 274 ribu
unit, sehingga awal 2026 turun menjadi sekitar 1,05 juta unit,” ujar Boedyo,
Rabu (6/5/2026).
Ia menjelaskan, pemerintah menargetkan penurunan backlog tersebut dapat
dituntaskan dalam empat tahun ke depan melalui sinergi antara pemerintah pusat,
provinsi, kabupaten/kota, serta dukungan pemangku kepentingan seperti CSR,
Baznas, pelaku usaha, dan masyarakat.
Penanganan backlog sendiri mencakup dua aspek, yakni kepemilikan rumah bagi
masyarakat yang belum memiliki hunian serta peningkatan kelayakan rumah melalui
perbaikan Rumah Tidak Layak Huni (RTLH).
“Program ini tidak hanya membangun rumah baru, tetapi juga memperbaiki
rumah yang tidak layak agar memenuhi standar hunian yang aman dan sehat,” jelas
Boedy.
Penentuan penerima bantuan dilakukan berdasarkan data terpadu seperti
Data Terpadu Kesejahteraan Sosial (DTKS) yang kemudian diverifikasi melalui
pengecekan lapangan, termasuk status lahan dan kondisi fisik bangunan.
Program ini juga menjadi bagian dari dukungan Pemerintah Provinsi Jawa
Tengah terhadap target nasional pembangunan 3 juta rumah.
Gubernur Jawa Tengah, Ahmad Luthfi, mengatakan, program RTLH adalah wujud
nyata kehadiran pemerintah untuk memastikan masyarakat hidup di hunian yang
layak, aman, dan sehat.
“Kami akan terus memperkuat kolaborasi agar semakin banyak warga terbantu
dan backlog perumahan di Jawa Tengah bisa ditekan secara bertahap,” ungkap
Ahmad Luthfi.
Menurutnya, penyediaan rumah bagi warga miskin bukan sekadar pembangunan
fisik, tetapi upaya menghadirkan keadilan sosial.
“Kami ingin setiap keluarga di Jawa Tengah memiliki tempat tinggal yang
layak sebagai fondasi untuk hidup lebih sejahtera dan produktif,” ungkap
Gubernur.
Manfaat program ini dirasakan langsung oleh masyarakat. Salah satunya
Subali, warga Desa Sirnoboyo, Kecamatan Giriwoyo, Kabupaten Wonogiri, yang kini
dapat menempati rumah layak setelah sebelumnya tinggal menumpang.
“Saya senang sekali dapat bantuan rumah. Dulu tidak pernah kepikiran bisa
punya rumah sendiri,” ujarnya.
Sebagai penjual bakso bakar keliling, penghasilan Subali tidak menentu.
Namun kini, ia bersama istri dan anaknya bisa menikmati hunian yang lebih
nyaman dan layak.
“Sekarang lebih nyaman punya rumah sendiri. Anak juga lebih semangat
belajar,” katanya.
Sumar, warga Desa Sirnoboyo, Kecamatan Giriwoyo, Wonogiri, juga merasakan
manfaat program renovasi RTLH. Rumahnya yang sebelumnya berdinding kayu kini
telah diperbaiki menjadi tembok bata berlapis semen.
“Senang sekali mendapat bantuan RTLH. Saya merasa pemerintah benar-benar
memperhatikan warganya,” ujarnya.
Sebagai petani sekaligus pekerja serabutan, Sumar mengaku kesulitan
memperbaiki rumah karena keterbatasan ekonomi. Penghasilannya yang tidak
menentu membuat rencana renovasi kerap tertunda.
“Kadang buruh tani, kadang ikut tukang batu. Ingin memperbaiki rumah tapi
belum punya biaya. Alhamdulillah sekarang bisa direnovasi,” katanya.
Ia menambahkan, bantuan tersebut membuatnya lebih tenang dan termotivasi
dalam bekerja. Kini, ia bersama istrinya dapat menempati rumah yang lebih layak
dan kokoh.
“Rasanya lega, sekarang rumah lebih kuat dan atapnya sudah bagus,”
tandasnya.
Bagi Subali, Sumar, dan ratusan ribu warga penerima manfaat program RTLH
Jateng, rumah tersebut bukan sekadar tempat tinggal, melainkan simbol kehadiran
negara yang nyata bagi masyarakat kecil. (eko/redaksi)











