- Bawa Flare Hingga Miras, Puluhan Suporter Persis Solo Diamankan Polisi
- Perkuat Ketahanan Pangan, Polda Jateng Panen Raya Jagung Serentak di Boyolali
- ODGJ Lempar Batu Pengguna Jalan di Pati Diamankan Polisi
- RSUD Margono Disiapkan Jadi Pusat Layanan Kesehatan Banyumas Raya
- Info Lur! Beasiswa Santri Pemprov Jateng Masih Dibuka
- Rumah Dinas untuk Rakyat, Taj Yasin Jamu Peserta Susbanpim Banser
- Curi Motor di Laweyan Solo, Pemuda Asal Serang Banten Diringkus Polisi
- Gubernur Luthfi Blusukan ke Pasar Wage, Siapkan Revitalisasi Eks Kebakaran
- Purwokerto Half Marathon 2026, Dongkrak Ekonomi dari Ajang Lomba Lari
- Meriah, 6.000 Pelari Ikuti Purwokerto Half Marathon 2026
Harga Plastik Mahal, Pemprov Jateng Dorong Penggunaan Bioplastik Solusi Ramah Lingkungan

Keterangan Gambar : Kepala Dinas Perindustrian dan Perdagangan Jawa Tengah, July Emmylia saat ditemui di kantornya, Jumat (10/4/2026).
Semarang, infojateng.id – Pemerintah
Provinsi (Pemprov) Jawa Tengah memastikan tidak akan ada praktik penimbunan
plastik di tengah lonjakan harga bahan baku plastik.
Di saat yang sama, Pemprov mulai mendorong penggunaan
bioplastik sebagai solusi jangka menengah dan panjang yang lebih ramah
lingkungan.
Kepala Dinas Perindustrian dan Perdagangan Jawa
Tengah, July Emmylia, mengatakan, kenaikan harga plastik dipicu gangguan
pasokan global akibat ketegangan geopolitik di kawasan Selat Hormuz. Kondisi
tersebut berdampak langsung pada lonjakan harga naphta, bahan baku utama
plastik.
Baca Lainnya :
- Generasi Muda Didorong Miliki Kemampuan Berpikir Kritis0
- Relokasi Korban Tanah Gerak Jangli Semarang Tunggu Lokasi dan Anggaran0
- Resmi! Pemprov Jateng Mulai Berlakukan WFH0
- Gandeng Investor, Cilacap Kembangkan TPA Kunci Sidareja Berbasis Waste to Energy0
- Bikin Bangga, Siswa SMAN 4 Semarang Juara Umum di Festival Internasional Thailand0
“Harga naphta naik signifikan dari sekitar 600 dolar
AS per ton menjadi 900 dolar AS per ton. Ini yang kemudian mendorong kenaikan
harga plastik di tingkat industri,” ujar Emmy saat ditemui di kantornya, Jumat
(10/4/2026).
Menurutnya, dampak paling besar dirasakan pelaku usaha
sektor makanan dan minuman, khususnya industri kecil dan menengah (IKM) serta
UMKM. Hal ini karena plastik digunakan sebagai kemasan utama dalam proses
produksi.
“Tekanan paling berat dirasakan IKM maupun UKM sektor
pangan, karena penggunaan plastik sangat intens sebagai kemasan utama. Sektor
lain seperti furnitur dan tekstil tetap terdampak, namun tidak sebesar itu,”
jelasnya.
Untuk mengantisipasi kondisi tersebut, Pemprov Jawa
Tengah menyiapkan langkah cepat dengan memperketat pengawasan distribusi
plastik di lapangan.
Pengawasan akan dilakukan bersama aparat kepolisian
guna mencegah praktik penimbunan oleh oknum yang ingin mengambil keuntungan.
“Dalam jangka pendek kami akan turun bersama
kepolisian untuk memastikan tidak ada penimbunan plastik, sekaligus menjaga
stabilitas distribusi,” tegas Emmy.
Selain itu, Pemprov juga akan kembali menguatkan
kampanye pengurangan plastik sekali pakai di masyarakat. Edukasi penggunaan
alternatif seperti tumbler, tas belanja pakai ulang, dan pengurangan konsumsi
plastik menjadi fokus utama.
Di sisi lain, untuk jangka menengah hingga panjang,
Pemprov Jawa Tengah mulai mendorong penggunaan bioplastik berbahan baku lokal,
seperti pati singkong.
Meski harganya relatif lebih tinggi, langkah ini
dinilai penting sebagai bagian dari transisi menuju industri yang lebih
berkelanjutan.
“Substitusi bisa dimulai bertahap, sekitar 20 hingga
30 persen, sebelum nantinya beralih lebih luas ke bahan ramah lingkungan,”
ujarnya.
Pemprov juga mendorong pelaku industri untuk
bertransformasi menuju konsep industri hijau. Salah satunya melalui pemanfaatan
energi terbarukan, seperti panel surya yang dinilai mampu menekan biaya produksi
hingga 20 persen.
“Efisiensi energi ini diharapkan bisa menutup kenaikan
biaya akibat penggunaan bahan ramah lingkungan,” tambahnya.
Emmy pun mengajak masyarakat dan pelaku UMKM untuk
mulai beradaptasi dengan perubahan tersebut.
“Kami mengimbau masyarakat dan UMKM untuk mulai beralih ke bahan yang lebih ramah lingkungan. Tantangan ini justru bisa menjadi peluang untuk bertransformasi,” pungkasnya. (eko/redaksi)











