- Perkuat Ketahanan Pangan, Polda Jateng Panen Raya Jagung Serentak di Boyolali
- ODGJ Lempar Batu Pengguna Jalan di Pati Diamankan Polisi
- RSUD Margono Disiapkan Jadi Pusat Layanan Kesehatan Banyumas Raya
- Info Lur! Beasiswa Santri Pemprov Jateng Masih Dibuka
- Rumah Dinas untuk Rakyat, Taj Yasin Jamu Peserta Susbanpim Banser
- Curi Motor di Laweyan Solo, Pemuda Asal Serang Banten Diringkus Polisi
- Gubernur Luthfi Blusukan ke Pasar Wage, Siapkan Revitalisasi Eks Kebakaran
- Purwokerto Half Marathon 2026, Dongkrak Ekonomi dari Ajang Lomba Lari
- Meriah, 6.000 Pelari Ikuti Purwokerto Half Marathon 2026
- 6.000 Pelari Bakal Ramaikan Purwokerto Half Marathon, Ungkit Sport Tourism dan Ekonomi Lokal
Petani Temanggung Dikenalkan Teknologi Plasma Ozon, Ini Tujuannya

Temanggung, infojateng.id – Penanganan pascapanen hasil pertanian menjadi fokus perhatian Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Temanggung. Dengan menggandeng Universitas Diponegoro (Undip) Semarang, petani Desa Campurejo, Kecamatan Tretep, mendapat pengenalan teknologi plasma berbasis ozon (O3), baru-baru ini.
Pengenalan teknologi tersebut bertujuan untuk memperpanjang masa simpan pascapanen. Plasma ozon itu merupakan inovasi dari Undip Semarang, untuk mencegah pembusukan, serta memperpanjang masa simpan hasil pertanian, seperti produk hortikultura, maupun buah-buahan.
Guru Besar Ilmu Ekonomi Undip Semarang, Firmansyah mengatakan, teknologi itu mengandalkan generator Plasma Ozon, yang dipasang pada sistem cold storage berkapasitas dua ton.
Baca Lainnya :
Dijelaskan dia, Ozon dapat membunuh mikro organisme penyebab pembusukan, dan menghilangkan residu pestisida.
“Hasil panen itu hanya direndam selama lima hingga sepuluh menit, agar pada proses itu diketahui teknologi ozon pada pangan memanfaatkan gas ozon (O3) sebagai disinfektan alami yang efektif, untuk membunuh mikroorganisme, menghilangkan residu pestisida, mengawetkan produk, serta memperpanjang masa simpan tanpa meninggalkan residu berbahaya, karena mudah terurai menjadi oksigen,” jelasnya.
Dengan demikian, terang dia, hasil pertanian maupun buah dapat bertahan segar hingga satu bulan, karena menjadi alternatif pengawet yang aman, ramah lingkungan, dan menjaga kualitas nutrisi, serta sensorik makanan.
“Dengan alat itu menyelesaikan problem pembusukan, pestisida hilang. Walaupun pertanian dilakukan secara tradisional, tidak organik, setelah dicuci istilahnya jadi organik, sehingga nilai barang bisa berlipat ganda, yang tadinya dijual Rp25 ribu, karena organik, bisa Rp35 ribu hingga Rp50 ribu, dan itu diterima pasar modern,” lanjutnya.
Sementara Bupati Temanggung Agus Setyawan mengatakan, inovasi itu menjadi opsi bagi petani untuk menunda penjualan hasil panen ketika harga di pasaran rendah, sehingga saat harga kembali normal dapat dijual.
“Dengan skema ini diharapkan mampu menjaga pendapatan petani, sekaligus menekan fluktuasi harga di pasar, karena produk pertanian ini bisa disimpan dahulu,” kata Agus.
Sebagai pengembangan teknologi ini, bupati akan mengusulkan anggaran di APBD 2026, untuk pengadaan alat Plasma Ozon bagi beberapa wilayah yang menjadi sentra hortikultura.
“Jika memang alat ini mampu membantu petani untuk penanganan pascapanen, dari Pemkab Temanggung akan menyupport untuk bisa menyediakan ini di beberapa titik. Semoga ini menjadi solusi berkaitan dengan peningkatan pendapatan dan kesejahteraan para petani,” tandasnya. (eko/redaksi)











