- ODGJ Lempar Batu Pengguna Jalan di Pati Diamankan Polisi
- RSUD Margono Disiapkan Jadi Pusat Layanan Kesehatan Banyumas Raya
- Info Lur! Beasiswa Santri Pemprov Jateng Masih Dibuka
- Rumah Dinas untuk Rakyat, Taj Yasin Jamu Peserta Susbanpim Banser
- Curi Motor di Laweyan Solo, Pemuda Asal Serang Banten Diringkus Polisi
- Gubernur Luthfi Blusukan ke Pasar Wage, Siapkan Revitalisasi Eks Kebakaran
- Purwokerto Half Marathon 2026, Dongkrak Ekonomi dari Ajang Lomba Lari
- Meriah, 6.000 Pelari Ikuti Purwokerto Half Marathon 2026
- 6.000 Pelari Bakal Ramaikan Purwokerto Half Marathon, Ungkit Sport Tourism dan Ekonomi Lokal
- Sedekah Bumi Dukuh Rendole, Muktiharjo Hadirkan Ketoprak, Warga Jaga Tradisi dan Gotong Royong
Program Gentengisasi Prabowo Picu Kebangkitan Ekonomi Pengrajin Lokal di Jepara

Keterangan Gambar : Program gentengisasi Presiden Prabowo berpotensi menggerakkan roda perekonomian lokal, khususnya bagi para pengrajin genteng dan sektor pengembang perumahan di Kabupaten Jepara.
Jepara, infojateng.id – Pemerintah memulai program gentengisasi sebagai bagian dari kebijakan Presiden Prabowo Subianto untuk mendorong penggunaan produk UMKM dalam pembangunan perumahan rakyat.
Program gentengisasi dinilai berpotensi menggerakkan
roda perekonomian lokal, khususnya bagi para pengrajin genteng dan sektor
pengembang perumahan di Kabupaten Jepara.
Ketua Paguyuban Forum Komunikasi Developer Property
(FKDP) Jepara, Habli Mubarok, mengatakan bahwa penggunaan genteng dan batu bata
merah sebenarnya sudah lama diterapkan oleh sejumlah pengembang di Jepara.
Namun, terkait program gentengisasi, tidak semua pengembang memberikan dukungan
penuh.
Baca Lainnya :
- 230 Pelaku Usaha di Jepara Dapat Pendampingan Akselerasi Sertifikasi Halal0
- Stop Hoaks! Masyarakat Diajak Cek Fakta di Era Informasi Digital0
- Sekda Sumarno Minta Pemerintah Pusat Perbanyak Event Nasional di Jateng0
- Gubernur Jateng Ingin Dongkrak Produksi Susu Lewat Kontes Sapi Perah 0
- SMAN 2 Cilacap Raih Medali Perak JNSF Tahun 20260
Menurut dia, salah satu kendala utama adalah
keterbatasan kapasitas produksi genteng di Jepara. Selain itu, terdapat selisih
biaya produksi jika dibandingkan dengan penggunaan atap galvalum.
“Selisih biaya produksinya sekitar Rp1–2 juta jika
menggunakan genteng. Namun hal itu tidak terlalu dipersoalkan,” ujarnya, Sabtu
(25/4/2026).
Meski demikian, ia berharap para pengrajin genteng
dapat meningkatkan kapasitas produksinya agar mampu memenuhi kebutuhan pasar,
terutama jika program gentengisasi dijalankan secara lebih luas.
Sementara itu, Kepala Dinas Perumahan Rakyat dan
Kawasan Permukiman (Disperkim) Kabupaten Jepara, Moh Eko Udyyono, menyebutkan
bahwa pembangunan perumahan di Jepara sepanjang 2018 hingga 2026 mencapai
18.934 unit yang tersebar di 10 kecamatan.
Dari jumlah tersebut, sekitar 50 % unit rumah telah
terbangun, sementara sisanya sekitar 9 ribu unit masih dalam tahap perencanaan
atau belum dibangun.
Eko menjelaskan, satu unit rumah subsidi dengan ukuran
30×60 meter membutuhkan sekitar 1.000 genteng. Dengan harga rata-rata Rp1.500
per buah, potensi perputaran ekonomi dari program gentengisasi diperkirakan
mencapai Rp13,5 miliar.
“Total perputaran uang yang bisa diserap UMKM genteng
di Jepara dari program gentengisasi sekitar Rp13,5 miliar. Kami berharap itu
bisa terserap oleh UMKM genteng di Jepara,” jelasnya.
Meski memiliki potensi besar, Eko menegaskan bahwa
program gentengisasi saat ini masih bersifat imbauan dari pemerintah pusat. Karena
itu, pemerintah daerah belum dapat mewajibkan pengembang untuk menggunakan
genteng.
“Kami sudah menyampaikan imbauan kepada pengembang
perumahan. Namun karena dari pusat juga sifatnya imbauan, kami di daerah hanya
bisa mengimbau,” kata Eko.
Kendati demikian, respons pengembang terhadap program
ini dinilai cukup positif. Sebagian besar pengembang disebut mendukung karena
dinilai mampu mendorong pertumbuhan UMKM lokal, khususnya pengrajin genteng di
Jepara.
Saifuddin, pengrajin genteng asal Desa Jatisari,
Kecamatan Nalumsari, Kabupaten Jepara mengatakan, bahwa kondisi saat ini jauh
berbeda dibandingkan sepuluh tahun lalu. Jika dulu terdapat sekitar 100
pengrajin di desanya, kini hanya tersisa sekitar 25 orang yang masih aktif
memproduksi genteng.
"Banyak yang sudah berhenti. Ada yang beralih
menjadi peternak kerbau atau kuli bangunan karena biaya produksi tidak menutup
harga jual," ujar Saifuddin saat ditemui di rumahnya.
Ia mengenang masa sulit lima tahun lalu ketika harga
genteng anjlok hingga Rp500.000 per 1.000 keping, yang memicu eksodus
besar-besaran para pengrajin dari sektor ini.
Saat ini, Saifuddin mampu memproduksi antara 450
hingga 500 keping genteng perhari dengan tenaga mandiri. Adapun harga jual di
tingkat pengrajin saat ini berkisar antara Rp1 juta hingga Rp1,1 juta per 1.000
keping. Meskipun harga sudah mulai membaik, permintaan pasar masih sangat
bergantung pada musim.
"Kami para pengrajin genteng menaruh harapan besar
pada rencana program pemerintah, termasuk program pembangunan yang diwacanakan
oleh Presiden Prabowo," ujar Saifuddin.
Ia menilai, jika proyek pemerintah menggunakan genteng
hasil pengrajin lokal, maka permintaan dan harga akan terangkat. Selain pasar,
kendala utama yang dihadapi adalah permodalan.
Saifuddin berharap pemerintah memberikan kemudahan
bagi UMKM dalam mengakses Kredit Usaha Rakyat (KUR).
"Harapannya dipermudah saja. Kalau memang untuk
usaha, prosesnya jangan berbelit-belit atau terlalu lama. Modal itu penting
supaya kami punya daya tawar dan tidak terburu-buru menjual dengan harga rendah
ke bakul," haranya.
Sejumlah
pihak mengingatkan pentingnya menjaga kualitas produksi serta kestabilan harga
agar program ini dapat berjalan berkelanjutan. Dukungan dari berbagai pihak,
termasuk akses permodalan dan pelatihan bagi pengrajin, dinilai menjadi kunci
keberhasilan jangka panjang.
Dengan berbagai dampak positif yang mulai terlihat, program gentengisasi dinilai bukan hanya sebagai kebijakan pembangunan fisik, tetapi juga sebagai strategi pemberdayaan ekonomi berbasis lokal. (eko/redaksi)











