Jadikan Media Digital Ruang Diskusi yang Sehat dan Berbudaya

Jadikan Media Digital Ruang Diskusi yang Sehat dan Berbudaya

infojateng.id - 30 Juli 2021
Jadikan Media Digital Ruang Diskusi yang Sehat dan Berbudaya
Ilustrasi diskusi, fofo anantakendek.com - (infojateng.id)
Penulis
|
Editor

BANYUMAS –Warga digital sudah seharusnya bisa menjadikan ruang digital sebagai tempat praktik berbudaya melalui aktivitas sehari-hari. Itu kalimat pengantar yang disampaikan dosen Universitas Sam Ratulangi, Leviane Jackelin Hera Lotulung.

Dosen yang juga anggota Jaringan Pegiat Literasi Digital (Japelidi) itu menyoroti fenomena adanya kecenderungan masyarakat senang berbagi konten-konten negatif ketimbang positif hanya demi mengharapkan subscriber, followers, atau likes yang banyak.

“Jadikan ruang digital sebagai tempat praktik berbudaya dengan hanya menyebar konten positif, inspiratif, edukatif, informatif, produktif dan menghibur,” kata Leviane saat menjadi narasumber dalam webinar literasi digital bertajuk “Menjadi Masyarakat Pancasila di Era Digital” yang digelar Kementerian Kominfo dan Debindo bagi warga Kabupaten Banyumas, Jawa Tengah, Kamis (29/7/2021).

Ia mengingatkan bahwa apapun konten yang disebar akan menjadi jejak digital dan terekam. Maka pengguna diharap tidak asal demi mendapatkan keuntungan pribadi melakukan perilaku negatif bermedia digital yang bisa merugikan dirinya sendiri dan orang lain.

“Masyarakat berbudaya tentu akan mengutamakan sikap saling menghargai, ia bisa memilah mana konten-konten sensitif dan tak bermanfaat yang tak perlu disebar atau diteruskan. Warga berbudaya adalah mereka yang bisa sopan, santun dan bermartabat termasuk aktivitas digitalnya,” kata Leviane.

Kesopanan netizen Indonesia sendiri sempat jadi sorotan pada awal 2021, ketika Microsoft melansir hasil survei yang menyebut warganet RI termasuk yang paling tidak sopan.

Hal itu berdasarkan riset Microsoft yang mengukur tingkat kesopanan pengguna internet sepanjang 2020. Hasilnya, Indonesia berada di urutan ke-29 dari 32 negara yang disurvei.

“Saat berinternet, jadilah pengguna yang bisa menciptakan ruang diskusi yang sehat. Tanpa makian, kata kasar, umpatan, marah-marah, yang tak sesuai dengan falsafah hidup Pancasila, juga norma sosial yang ada,” kata Leviane.

Sehingga manakala terjadi sikap saling beda pendapat, entah bidang apa pun, penyelesaiannya pun dengan cara bermartabat dengan diskusi sehat yang merumuskan jalan tengah, solusi, bukan malah saling mencaci.

Leviane kemudian mengungkap perlunya penggunaan media digital terus diarahkan sebagai bagian mempromosikan gaya hidup yang berkualitas.

“Ruang digital selayaknya menjadi sarana menebar harmoni dan menguatkan kebersamaan. Dari ruang digital itu kita bisa wujudukan rasa cinta Tanah Air secara positif,” tuturnya.

Indonesia, sambung Leviane, menjunjung adat budaya yang kental dengan nilai luhur. “Ruang digital adalah wujud praktik, produk dan perspektif budaya kita,” cetusnya.

Budaya sendiri merupakan gagasan dan rasa tindakan dalam karya yang dihasilkan oleh manusia dalam kehidupan masyarakat. Budaya juga sebuah cipta karya dan karsa manusia. Budaya selalu ada karena manusia adalah akar budaya itu sendiri.

“Manusia adalah aktor budaya itu. Pancasila menjadi pedoman kehidupan masyarakat kita, sudah semestinya nilai-nilai dasar negara itu kita pahami dan praktikkan dalam hidup sehari-hari, termasuk interaksi di media digital,” tegas Leviane.

Banyak teladan perilaku berbudaya dalam dunia digital yang bisa jadi inspirasi meski sederhana. Menebar konten yang berguna seperti edukasi, tutorial atau inspiratif.

Pengajar SMK Darul Quran Rosid Efendi dalam kesempatan itu mengatakan, pengguna media digital dituntut berpikir panjang dan selalu menimbang apa dampak yang terjadi ketika berinteraksi di ruang digital itu.

“Pengguna media digital tidak terbatas, kita harus perhatikan dampak apa pun dari aktivitas kita entah membagi konten dan berkomentar,” kata Rosid.

Rosid menambahkan, teknologi informasi dan komunikasi harus dikawal agar dimanfaatkan dengan baik untuk hal bermanfaat, khususnya untuk mengarah kesejahteraan rakyat.

“Internet alat penting untuk membantu pendidikan, meningkatkan pengetahuan, dan meraih kualitas kehidupan yang lebih baik, ” ujar Rosid, dalam webinar yang juga menghadirkan Yoshe Angela (social media specialist) dan Muhamad Mustafid (LPPM UNU Yogyakarta) sebagai narasumber. (*)

Tinggalkan Komentar

Mungkin Anda melewatkan ini

Close Ads X