Medsos: Kendaraan Baru Bangun Budaya Demokrasi di Era Digital

Medsos: Kendaraan Baru Bangun Budaya Demokrasi di Era Digital

infojateng.id - 11 Oktober 2021
Medsos: Kendaraan Baru Bangun Budaya Demokrasi di Era Digital
 - (infojateng.id)
Penulis
|
Editor

Klaten – Media sosial dewasa ini menjadi ruang baru dalam menyampaikan demokrasi karena massa penggunanya yang tinggi sehingga lebih cepat tersampaikan, meski tetap ada batasan-batasan yang mesti dipahami dan dipatuhi. Tema “Media Sosial sebagai Sarana Siswa dalam Meningkatkan Toleransi dan Demokrasi” dibahas dalam webinar literasi digital yang diselenggarakan oleh Kominfo RI untuk masyarakat Kabupaten Klaten, Jawa Tengah, Senin (11/10/2021).

Tema diskusi yang dikupas dengan empat pilar literasi digital: digital ethics, digital culture, digital skill, digital safety dibahas oleh empat narasumber yang cakap pada bidangnya. Yaitu Tri Mardiana (pengajar di STIA Madani), Mia Angeline (dosen Universitas Bina Nusantara), Rizqika Alya Anwar (head of operation PT Cipta Manusia Indonesia), Zain Handoko (pengajar Pesantren Aswaja Nusantara. Serta Michelle Wanda (aktris) yang hadir sebagai key opinion leader.

Tri Mardiana menjelaskan dari perspektif etika digital bahwa dalam bermedia sosial itu tak lantas secara penuh bebas menyampaikan segala sesuatunya. Dalam berinteraksi dan berkomunikasi di ruang digital ada batasan berupa etika yang harus dijaga.

Etika mesti dijaga karena di ruang digital ada pengguna media digital yang berasal dari berbagai budaya dan saling terhubung. Keragaman budaya yang dibawa ke ruang digital itu berpotensi menimbulkan konflik-konflik baru jika sesama pengguna melewati batasan-batasan etika dan peraturan aktivitas daring.

Sebenarnya masalah etika, perbedaan budaya di ruang digital itu sama halnya dengan karakter masyarakat Indonesia yang juga terbentuk dari berbagai budaya, bahasa, adat istiadat berbeda. Oleh sebab itu media sosial sebagai ruang interaksi baru seharusnya menjadi ruang berdemokrasi dan toleransi yang bisa diraih dengan mudah.

“Menggunakan media sosial mestinya diarahkan pada suatu niat, sikap, dan perilaku yang etis demi kebaikan bersama dan meningkatkan kualitas kemanusiaan. Dalam bermedia harus didasari dengan kesadaran, berintegritas dalam menyampaikan konten, membagikan kebaikan, dan mampu dan mau menerima konsekuensi dari setiap aktivitas digital yang dilakukan,” jelas Tri Mardiana kepada 130-an peserta diskusi.

Etika bermedia sosial juga menjadi salah satu cara untuk melawan semakin maraknya konten-konten negatif karena melanggar etika. Etika berinternet dimulai dengan membuat akun yang sesuai identitas asli, menggunakan bahasa yang baik, sopan, dan santun, serta tidak menampilkan informasi yang mengandung SARA dan konten negatif lainnya.

“Dalam bermedia kita harus mengingat bahwa ada batasan yang tidak boleh dilewati, baik itu menyangkut soal privasi atau interaksi sesama pengguna. Selalu berpikir ulang sebelum mengunggah konten dan berkomentar, menjadi pembawa damai yang toleran dan menghargai hak demokrasi orang lain. Menghormati privasi orang lain dan tidak menyalahgunakan kekuasaan untuk melakukan hal-hal tidak etis,” jelasnya.

Sementra itu Zain Handoko menambahkan bahwa demokrasi di ranah digital adalah konsep memandang internet media sosial sebagai teknologi yang memiliki pengaruh sosial transformatif dan perluasan demokrasi. Media sosial merupakan sarana berpendapat dan simbol kepedulian sosial.

Warganet harus memiliki kecakapan untuk menggunakan media sosial baik sebagai sarana kolaborasi, berjejaring, dan membagikan hal-hal positif. Dalam berdemokrasi di ruang digital komunikasi harus disampaikan dengan memperhatikan kebenaran, ketepatan dan kejujuran.

“Bermedia sosial dengan cerdas, tahu bagaimana menyampaikan informasi dengan memperhatikan penggunaan bahasa dan kalimat yang tepat, kreatif menyampaikan aspirasi yang membangun, serta produktif dengan mengikuti kegiatan kolaborasi di forum-forum diskusi,” jelasnya.

Ia menilai media sosial itu seperti kendaraan yang bisa membawa kemana saja semau penggunanya. Media hanya sebuah alat, sedangkan pengguna media digital menjadi subjek yang mengontrol media sosial mau dipakai untuk hal negatif atau positif.

Sedangkan Rizqika Alya Anwar menambahkan bahwa ada tiga aspek penting untuk membangun budaya digital yang baik dan menciptakan media sosial sebagai ruang sosial yang nyaman. Partisipasi individu sangat berpengaruh untuk membangun budaya, bagaimana mereka ikut berkontribusi dalam mewujudkan tujuan bersama.

“Juga remediasi atau kemampuan masyarakat dalam mengubah budaya lama menjadi budaya baru yang lebih bermanfaat. Serta bagaimana masyarakat memanfaatkan hal-hal yang sudah ada untuk membentuk hal-hal baru atau inovasi,” imbuhnya. (*)

Tinggalkan Komentar

Mungkin Anda melewatkan ini

Close Ads X