Pentingnya Kemampuan Komunikasi Publik di Ruang Digital

Pentingnya Kemampuan Komunikasi Publik di Ruang Digital

infojateng.id - 11 Oktober 2021
Pentingnya Kemampuan Komunikasi Publik di Ruang Digital
Komunikasi via virtual zoom, foto feb.untagsmg.ac.id - (infojateng.id)
Penulis
|
Editor

Semarang – Kementerian Komunikasi dan Informatika RI menggelar webinar literasi digital untuk masyarakat Kabupaten Kota Semarang, Jawa Tengah, Senin (11/10/2021) dengan tema “Komunikasi Publik yang Cerdas dan Santun di Era Digital”. Webinar ini merupakan salah satu kegiatan dari program gerakan nasional Literasi Digital: Indonesia Makin Cakap Digital yang diselenggarakan untuk memacu kecakapan masyarakat dalam menggunakan teknologi informasi dan komunikasi secara lebih positif dan produktif.

Dipandu oleh presenter Yesica Amami, diskusi virtual hari ini menghadirkan empat narasumber: Dewi Bunga (dosen UHN IGB Sugriwa Denpasar), Sonakha Yuda Laksono (komisioner KPUD Jateng), Rizki Ayu Febriana (business coach UMKM), Zainuddin Muda Z. Monggilo (dosen Universitas Gadjah Mada). Serta produsen Bella Nabila yang hadir sebagai key opinion leader. Masing-masing narasumber membahas materi dari sudut pandang empat pilar literasi digital: digital ethics, digital skills, digital culture, dan digital safety.

Narasumber Zainuddin Muda Z. Monggilo mengatakan bahwa literasi digital merupakan kemampuan yang mutlak dipelajari oleh masyarakat digital, sebab tantangan yang harus dihadapi di era digital juga semakin meningkat seiring laju perkembangan yang juga pesat. Literasi digital tidak sekedar mampu secara teknis menggunakan perangkat digital, tapi lebih dari itu masyarakat dapat menggunakan teknologi untuk mendapatkan manfaat yang sebesar-besarnya serta meminimalisasi ancaman negatifnya.

Kecakapan digital salah satunya merupakan kecakapan yang dapat menunjang komunikasi publik menjadi lebih baik. Komunikasi publik di era digital juga tidak hanya kemampuan berbicara atau berkomunikasi di ruang publik, tetapi juga bagaimana media digital menjadi ruang komunikasi untuk memberikan pengaruh kepada orang lain.

“Maka dalam seni berkomunikasi diperlukan ethos atau etika, pathos atau emosi dan perasaan, dan logos atau logika,” jelas dosen UGM kepada 400-an peserta webinar.

Kemampuan komunikasi publik juga berkaitan dengan bagaimana pelayanan publik berbasis digital berlangsung. Penyedia layanan publik mesti memiliki kemampuan komunikasi yang baik, responsif, dan pelayanan yang cepat untuk menciptakan pelayanan publik yang diinginkan masyarakat.

Namun dalam proses komunikasi tersebut juga perlu diperhatikan tantangannya. Di antaranya berupa hoaks, ujaran kebencian, perundungan siber dan konten negatif lainnya.

“Dalam berkomunikasi hendaknya menganut prinsip tabayyun. Yaitu memastikan kebenaran informasi dengan melakukan verifikasi dan verifikasi ulang kebenaran informasi dan data sehingga tidak menimbulkan penyebaran hoaks maupun ujaran kebencian,” lanjutnya.

Komunikasi publik yang baika adalah melawan ujaran hate speech dengan love speech, membaca keseluruhan informasi dan crosscheck kredibilitas informasi, juga mempertimbangkan penting dan manfaat informasi jika disebarkan.

Sementara itu, Rizki Ayu Febriana menambahkan bahwa kecakapan komunikasi di ruang digital juga perlu memperhatikan apakah komunikasi dan interaksi di ruang publik itu sudah berlangsung aman. Sebab aktivitas digital yang tinggi rupanya diikuti dengan risiko keamanan yang tinggi pula.

Selain itu menilik karakter masyarakat digital yang tidak suka aturan dan suka berekspresi, keamanan digital menjadi kemampuan yang mesti ditingkatkan lagi. Pengguna media digital harus waspada dengan jejak-jejak digital yang ditinggalkan.

“Jejak digital bisa membawa sial ketika dalam berekspresi justru mengumbar data pribadi. Mempublikasikan data pribadi ke ruang publik sama artinya mengekspos rahasia kepada kejahatan. Atau komentar yang buruk pun juga bisa mendatangkan bahaya yang berkaitan dengan pelanggaran UU ITE,” jelasnya.

Cara berperilaku di internet dengan aman adalah menjelajah di situs terpercaya, menghapus riwayat penelusuran online, meminimalisir penggunaan Wifi publik, serta mengaktifkan pengaturan privasi pada setiap layanan media digital yang digunakan.

“Penting dan tidak boleh dilupakan adalah melindungi akun dan perangkat digital dengan password yang kuat, serta membiasakan logout setelah selesai menggunakan perangkat untuk aktivitas digital,” tutupnya. (*)

Tinggalkan Komentar

Mungkin Anda melewatkan ini

Close Ads X