Bermedia Digital dalam Keragaman Budaya

Bermedia Digital dalam Keragaman Budaya

infojateng.id - 11 Oktober 2021
Bermedia Digital dalam Keragaman Budaya
 - (infojateng.id)
Penulis
|
Editor

Semarang – Masyarakat Indonesia saat ini sedang mengidap penyakit rendahnya pemahaman atas nilai-nilai pancasila dan bhineka tunggal ika. Hal ini terlihat karena banyaknya masyarakat yang tidak mampu memahami batasan kebebasan berekspresi, utamanya dalam konteks berdigital. Betapa media sosial telah dijejali oleh narasi-narasi kebencian, pencamaran nama baik dan provokasi yang mengarah pada segregrasi sosial.

Hal ini ditegaskan Sri Astuty, seorang aktivis dari Jaringan Pegiat Literasi Digital (JAPELIDI) yang juga Dosen FISIP ULM Banjarmasin saat menjadi pemateri program literasi digital yang digagas Kominfo RI di Kabupaten Semarang, 22 Juni 2021. Ia membeberkan bagaimana menjadi warga digital yang pancasilais.

“Berpikir lah kritis. Kemudian meminimalisir Unfollow, Unfriend dan Block untuk menghindari Echo Chamber dan Filter Bubble. Dan terpenting adalah hidupkan gotong royong, kolaborasi kampanye Literasi Digital,”ujarnya.

Astuty lalu membagikan tips bagaimana menjadikan ruang digital sebagai praktik
berbudaya dalam aktivitas sehari-hari. Beberapa tips itu antaralain dengan cara terus membudayakan penyebaran konten-konten positif. Promosikan gaya hidup yang berkualitas. Ciptakan rasa saling menghargai.

“Sopan santun dan bermartabat dalam berdigital. Kuatkan harmoni dan kebersamaan dengan selalu menciptakan ruang-ruang diskusi yang sehat,”jelasnya.

Sementara Sigit Rahmanto, dalam webinar itu memaparkan data mencengangkan mengenai ketidaksopanan netizen di Indonesia. Menurutnya, sebanyak 27 persen pengguna media sosial menyebarkan ujaran kebencian di platform digital. Kemudian 13 persen diantaranya melakukan tindakan diskriminasi. Dan tertinggi adalah penyebaran hoax, yang persentasenya mencapai 47 persen.

“Kemunduran tingkat kesopanan paling banyak didorong pengguna usia dewasa dengan persentase 68 persen. Sementara usia remaja disebut tidak berkontribusi dalam mundurnya tingkat kesopanan digital di Indonesia pada 2020. Perilaku ketidaksopnana itu mengalami kenaikan saat momentum politik,”jelasnya.

Karena itu, Sigit Rahmanto menegaskan perlunya pemahaman etika dan moral dalam menggunakan media sosial. “Kita semua manusia bahkan sekalipun saat berada di dunia digital, perlu mengikuti segala bentuk aturan seperti dalam kehidupan nyata.

Sebab, pengguna internet berasal dari bermacam negara yang memiliki perbedaan bahasa, budaya dan adat istiadat. Sehingga seseorang dalam bermedia digital perlu bertindak etis,”katanya.

Lalu bagaimana menciptakan etika saling menghargai di dunia digital?
Menurut Sigit, perlu kiranya setiap masyarakat menumbuhkan kesadaran bahwa setiap manusia merupakan bagian dari negara Majemuk, Multikulturalis, sekaligus Demokratis.

“Saat ini kita berhadapan dengan generasi digital native (warga digital) yang lebih banyak ‘belajar’ dari media digital. Sehingga perlu terus meningkatkan kemampuan membangun perilaku komunikasi tanpa stereotip dan pandangan negati,”jelasnya.

Webinar ini merupakan program literasi digital yang digagas Kominfo RI. Mengusung tema “saling menghargai netizen dari berbagai latar belakang budaya di dunia digital”, webinar ini menghadirkan sejumlah pembicara handal dan berkompeten di bidangnya. Selain Astuty dan Sigit, Kominfor menghadirkan Didin Sutandi, seorang penulis dan jurnalis yang bicara dari perspektif digital skill. Kemudian ada pula M Thoboroni, Dosen Universitas Borneo yang membagikan pengalamannya dalam konteks digital culture.

Webinar semakin semarak karena dimoderatori Triwi Dyatmoko, seorang entertainer dan Putri Juniwan, presenter TV Nasional yang hadir sebagai Key Opinion Leader. Acara diakhiri dengan tanya jawab dari peserta webinar.(*)

Tinggalkan Komentar

Mungkin Anda melewatkan ini

Close Ads X