Jadi Roda Penggerak Literasi Digital, Milenial Harus Cakap dan Etis

Jadi Roda Penggerak Literasi Digital, Milenial Harus Cakap dan Etis

infojateng.id - 25 November 2021
Jadi Roda Penggerak Literasi Digital, Milenial Harus Cakap dan Etis
Milenial, foto by id.foutap.com - (infojateng.id)
Penulis
|
Editor

Klaten – Perkembangan teknologi membawa pada perubahan kehidupan. Kelompok milenial dan generasi muda lainnya sangat diuntungkan dengan kehadiran teknologi, mereka diharapkan menjadi penggerak literasi digital bagi generasi muda lainnya dan mau menjadi pendamping bagi generasi digital immigrant yang perlu usaha lebih dalam beradaptasi.

Hal ini dibahas dalam webinar literasi digital bertema “Milenial Sebagai Penggerak Literasi Digital” yang diselenggarakan oleh Kementerian Kominfo RI untuk masyarakat Kabupaten Klaten, Jawa Tengah, Rabu (24/11/2021).

Diskusi virtual dipandu oleh Fikri Hadil (presenter) dan diisi oleh empat narasumber: Frida Kusumastuti (Dosen Universitas Muhammadiyah Malang), Mohammad Adnan (CEO Viewture Creative Solution), Muhammad Mustafid (Sekretaris Nur Iman Foundation Mlangi Yogyakarta), Kamidi (Ketua MKKS). Serta Indira Wibowo (Duta Wisata Indonesia 2017) sebagai key opinion leader. Masing-masing narasumber membahas tema diskusi dengan empat pilar literasi digital yaitu digital ethic, digital culture, digital skill, digital safety.

Mohammad Adnan melalui paparannya mengatakan bahwa teknologi selalu membawa dua sisi wajahnya yaitu kelebihan dan kekurangannya. Dengan teknologi telepon pintar misalnya, manusia dipermudah dalam urusan komunikasi dan interaksinya. Di sisi lain sisi negatif teknologi juga dapat membuat antar individu terpolarisasi.

Oleh sebab itu sebagai masyarakat digital dituntut untuk memiliki sejumlah kecakapan agar dapat menggunakan teknologi dengan baik sebagai alat yang membantu dalam kegiatan kehidupan sehari-hari.

Kecakapan dasar dalam memahami dunia digital adalah mampu mengetahui, memahami, dan menggunakan perangkat teknologi informasi dan komunikasi beserta sistem informasinya. Tak hanya cakap menggunakan, pengguna media digital juga harus bisa memanfaatkan fitur-fitur yang disediakan dalam piranti perangkat digital, misalnya penggunaan mesin telusur untuk mencari informasi dan memilahnya sesuai kebutuhan dan kebenaran konten. Atau bagaimana pengguna platform digital menggunakan aplikasi-aplikasi yang diunduhnya.

Namun yang perlu diwaspadai dalam penggunaan teknologi digital adalah sistem algoritma yang diciptakan untuk menyajikan konten sesuai aktivitas penggunanya. Algoritma media digital menciptakan filter bubble yang efeknya menimbulkan ruang gema dimana pengguna hanya akan melihat arus media digital dengan informasi bertema serupa. Dampak buruknya pengguna menjadi orang yang ignorant, tidak bisa melihat perbedaan, dan mudah reaktif ketika menghadapi pendapat yang bertentangan dengan kepercayaannya.

“Dalam hal tersebut milenial berperan penting dalam menerapkan literasi digital. Milenial yang cenderung cekatan dalam menggunakan media sosial untuk berbagai keperluan harus turut berpartisipasi untuk melawan arus algoritma tersebut dengan menciptakan konten positif dan bermanfaat. Misalnya dengan informasi yang edukatif, inspiratif, menghibur, interaktif, atau konten ulasan sehingga dapat memperluas pengetahuan baru yang baik,” ujar Mohammad Adnan kepada 350-an peserta webinar.

Milenial harus paham dengan empat tahapan pembuatan konten kreatif untuk dapat menjadi roda penggerak konten positif. Pertama harus mampu mengenali karakter produk yang akan dikenalkan atau personal branding yang akan ditunjukkan, lakukan dengan memetakan kelebihan dan kekurangan produk serta membandingkan dengan produk lain yang memiliki tema serupa. Setelah itu lakukan riset atau penelitian untuk mengetahui audiens dengan menerapkan rumus 5W+1H.

“Tahap pentingnya adalah memodifikasi karakter produk dengan target audiens untuk diolah menjadi kreasi. Produk atau karya itu juga harus dikemas semenarik mungkin, bisa dengan caption yang dekat dengan audiens untuk menciptakan interaksi, menampilkan foto yang menarik, atau menyajikan konten dalam bentuk video pendek yang saat ini sedang digandrungi generasi muda, atau membuat infografis yang berbeda dari yang lainnya,” imbuh Mohammad Adnan.

Dalam membuat dan membagikan konten, lanjut Frida Kusumastuti (Dosen Universitas Muhammadiyah Malang) maka milenial harus paham prinsip etis bermedia. Empat prinsip yang harus dipegang sebagai kontrol dalam bermedia adalah prinsip “Ketik”.

Pertama, bermedia harus dilakukan dengan kesadaran. Ada proses berpikir, menganalisis, memverifikasi, dan mengevaluasi. Tanpa kesadaran tersebut dapat menjadi pengguna yang mudah reaktif dalam menghadapi informasi. Kedua, bermedia harus berani bertanggungjawab atas segala konsekuensi atas segala aktivitas yang dilakukan.

“Berbagi informasi harus dilandasi integritas atau kejujuran, tidak melakukan plagiasi atau menggunakan karya orang lain tanpa izin. Serta prinsip bermedia adalah selalu berpegang pada kebajikan yang mengedepankan rasa kemanusiaan dan memberikan kebermanfaatan,” jelas Frida Kusumastuti. (*)

Tinggalkan Komentar

Mungkin Anda melewatkan ini

Close Ads X