Menjaga Tradisi Membaca di Era Digital

Menjaga Tradisi Membaca di Era Digital

infojateng.id - 25 November 2021
Menjaga Tradisi Membaca di Era Digital
Foto/fakhrurrojihasan.wordpress.com - (infojateng.id)
Penulis
|
Editor

WONOSOBO – Masyarakat dewasa ini perlu berhati-hati dengan perkembangan teknologi karena teknologi memiliki sifat bisa mendekatkan yang jauh dan menjauhkan yang dekat.

“Perkembangan teknologi yang terlalu cepat dan terkoneksi memang membuat kita menjadi super aktif, cepat dapat informasi, tapi terlalu banyak informasi dan akhirnya bisa memicu distraksi dan orang kurang teliti, tidak tidak terbiasa membaca secara menyeluruh dan kurang berhati-hati,” kata kandidat Ph.D Covinus University of Budapest Ahmad Anwar saat menjadi pembicara webinar literasi digital bertema “Bangkitkan Budaya Membaca Generasi Muda di Era Digital” yang digelar Kementerian Kominfo untuk masyarakat Kabupaten Wonosobo, Jawa Tengah, Rabu (24/11/2021).

Dalam webinar yang diikuti 255 peserta itu, Anwar mengatakan oleh sebab itu, perlunya tetap menjaga tradisi membaca di era digital. Sebab kebiasaan malas membaca akan menimbulkan budaya yang kurang teliti dan salah satu dampaknya orang gampang terpapar hoaks serta gampang menjadi korban penipuan.

Anwar menegaskan, generasi muda perlu mengembangkan budaya membaca. Arti membaca itu sebenarnya lebih pada konteks belajar memahami sesuatu secara utuh.

“Dari membaca, kita diajak belajar memahami atau memberikan arti atas informasi pernyataan, situasi dan sebagainya,” tegas Ahmad Anwar kepada peserta webinar.

Prosesnya, lanjut Anwar, adalah dengan tidak gampang percaya informasi, selalu mau tabayyun, mau mencari tahu, tidak mudah klik tautan tak jelas.

Agar dapat mengerem sikap ceroboh di era digital itu, syaratnya memang salah satunya menghindari penggunaan HP untuk hal yang tidak penting. Tapi pikirkan prioritas dan non prioritas. Bahkan untuk hal non prioritas tidak harus selalu lari ke HP.

“Cobalah hanya buka sosial media di pagi dan malam saja, rem untuk tidak membuka Instagram ataupun Facebook, gunakan WhatsApp hanya untuk komunikasi bukan untuk story,” urai Anwar.

Kelebihan dari internet, masih menurut Anwar, memang menjadi sumber informasi, sumber hiburan, sampai media transaksi baik belanja online, ojek online, online banking, sampai urusan sewa-menyewa, pinjaman atau angsuran.

Tapi kelemahannya juga membuang-buang waktu, tempat tidak aman untuk anak, tersebarnya privasi, penipuan berita palsu sampai mengganggu kesehatan.

Untuk itu, Anwar mendorong pengguna membaca berita secara utuh dan hanya pilih dari situs berita terpercaya. Tentu saja bisa menggunakan media sosial seperti twitter untuk subscribe berita.

Selanjutnya, Anwar juga berharap pengguna lebih banyak melakukan aktivitas di dunia nyata daripada dunia maya. Seperti berkomunikasi langsung dengan keluarga dan teman, lebih diutamakan belajar, luangkan waktu banyak baca buku misalnya pergi ke perpustakaan dan pilih dan baca buku yang disukai.

Perlunya budaya membaca bagi kaum muda karena masa muda adalah masa produktif. Pilihannya ukir prestasi atau bermalas-malasan.

“Saat ini ada banyak pilihan prestasi yang bisa kita pilih. Mulai dari pendidikan, sosial, bahkan mengasah skill diri untuk masa depan,” sebut Anwar.

Di akhir paparannya, Anwar mengajak generasi muda sedari dini membekali diri dengan hard skill dan soft skill. Hard skill misalnya kemampuan dalam bahasa asing, mendapatkan sertifikasi untuk kemampuan tertentu, mengetik secara cepat, mengoperasikan mesin, dan memprogram komputer.

Sedangkan soft skill misalnya kemampuan komunikasi, fleksibilitas, kepemimpinan, kerjasama, kerja tim, dan manajemen waktu.

“Selalu bayangkan masa depan sebagai orang sukses,” kata Anwar. Misalnya impian kerja di perusahaan besar, kerja di ranah sosial, berkontribusi pada perkembangan sosial masyarakat, menjadi politisi jurnalis, akademisi, atau pemuda karir.

Narasumber lain webinar itu, dosen komunikasi dan sosial politik UNSIQ Iman Ahmad Ihsanudin menuturkan pentingnya saat ini mengembangkan budaya digital. Selain itu, juga mengetahui bagaimana teknologi dan internet membentuk cara kita berinteraksi sebagai manusia, cara kita berperilaku, berpikir dan berkomunikasi dalam masyarakat.

“Kecermatan membaca informasi dan menyikapinya dengan baik menjadi kebutuhan, sehingga perlu memahami bagaimana algoritma media sosial saat ini menampilkan bahwa like dan komentar banyak tak mesti mendukung hal yang bermanfaat positif,” kata Ahmad.

Iman mengatakan UU ITE dibuat bukan hanya menjadi salah satu solusi untuk masyarakat bijak bermedia. Namun literasi digital pengguna yang utama ialah menumbuhkan kesadaran.

Webinar itu juga menghadirkan narasumber digital marketer Rhesa Radyan Pranastiko, praktisi pendidikan Adhi Wibowo, serta dimoderatori Dannys Citra dan Sherin Tharia sebagai key opinion leader. (*)

Tinggalkan Komentar

Mungkin Anda melewatkan ini

Close Ads X