Digital Marketing Solusi Kebangkitan Sektor Pariwisata Pasca Pandemi

Digital Marketing Solusi Kebangkitan Sektor Pariwisata Pasca Pandemi

infojateng.id - 20 Juni 2021
Digital Marketing Solusi Kebangkitan Sektor Pariwisata Pasca Pandemi
Image Credit: Instagram @rzd_risdha_ - (infojateng.id)
Penulis
|
Editor

BANTUL– Pandemi Covid-19 telah mempercepat terjadinya proses transformasi digital. Meski begitu, pemerintah tetap harus memiliki program transformasi digital. Apalagi kini banyak pekerjaan yang dilakukan dengan menggunakan jaringan internet, salah satunya sektor pariwisata.

Pendapat itu disampaikan oleh dosen Ilmu Komunikasi UNS Andre Rahmanto di depan tak kurang 200 peserta webinar literasi digital, gelaran Kementerian Kominfo untuk masyarakat di Kabupaten Bantul, Daerah Istimewa Yogyakarta, 17 Juni lalu.

Dalam diskusi virtual bertema ”Memajukan Pariwisata Melalui Transmisi Digital” ini, Andre menyampaikan pariwisata merupakan salah satu sektor yang paling parah terkena dampak pandemi. Sejak tahun 2020 lalu, sektor pariwisata makin terpuruk. Akibatnya, sektor ini banyak mengalami kehilangan nilai ekonomi yang cukup besar.

”Anjloknya bisnis pariwisata tidak hanya terjadi di Indonesia, tetapi di seluruh dunia. Sekitar 70 persen bisnis pariwisata telah mengalami kerugian. Untuk itu, pelaku pariwisata harus didorong untuk mencari alternatif cara berpromosi agar bisnis ini tetap bergeliat,” tutur Andre.

Sesungguhnya, kata Andre, para pebisnis sektor pariwisata telah banyak menggunakan jaringan media sosial atau media digital untuk berpromosi. Namun, promosi lebih masif masih perlu dilakukan lantaran banyaknya potensi yang menarik bagi wisatawan.

”Transformasi digital diharapkan dapat membawa bisnis pariwisata lebih bergairah lagi, dan bangkit dari keterpurukan selama pandemi. Para palaku bisnis pariwisata dapat menggunakan media internet untuk promosi,” papar Andre.

Saat ini, Andre menambahkan, sekitar 70 persen pencarian informasi wisata dilakukan melalui media digital. Untuk itu, semua yang terkait dengan pariwisata – baik itu pemerintah maupun swasta, sudah selazimnya lebih berkonsentrasi ke arah itu.

”Jika pemanfaatan media digital tidak diprioritaskan, maka pariwisata di Indonesia tidak akan mengalami perubahan. Pariwisata itu intinya ada pada promosi,” tegas Andre.

Narasumber lain, Rita Gani menyatakan konsep pengembangan pariwisata umumnya dimulai dengan percakapan melalui media digital. Apalagi lebih dari 73 persen masyarakat Indonesia terhubung dengan internet.

”Tidak hanya di kota saja, pelosok pedesaan pun sekarang sudah terhubung dengan internet. Data ini akan bertambah, seiring dengan pandemi yang masih terus berlangsung hingga kini. Sejak pandemi covid terjadi, aktivitas luar rumah belum banyak dilakukan,” tutur dosen Fikom Unisba itu.

Lebih jauh Rita memaparkan, 73 persen pengguna internet di Indonesia menyasar ke berbagai bidang. Di antaranya pendidikan, pariwisata, transportasi dan sebagainya. Perkiraannya angka tersebut akan terus bertambah jika pandemi masih terjadi.

”Data AJI menunjukkan, ranking tertinggi pencarian info pariwisata dilakukan melalui media online. Kalau dulu, pencarian data dan informasi pariwisata banyak dilakukan secara manual, yakni menyebar dari mulut ke mulut maupun berupa brosur,” pungkas Rita.

Dipandu moderator Bia Nabila, webinar kali ini juga menampilkan narasumber lain: CEO Pasar Desa M. Sholahuddin N, Brandpreneur Edy SR, dan Sonny Ismail, selaku key opinion leader.

Masing-masing narasumber menyampaikan materi dari sudut pandang empat pilar utama literasi digital, yakni budaya digital (digital culture), aman bermedia digital (digital safety), etis bermedia digital (digital ethics), dan cakap bermedia digital (digital skill). (*)

Tinggalkan Komentar

Mungkin Anda melewatkan ini

Close Ads X