- Perkuat Ketahanan Pangan, Polda Jateng Panen Raya Jagung Serentak di Boyolali
- ODGJ Lempar Batu Pengguna Jalan di Pati Diamankan Polisi
- RSUD Margono Disiapkan Jadi Pusat Layanan Kesehatan Banyumas Raya
- Info Lur! Beasiswa Santri Pemprov Jateng Masih Dibuka
- Rumah Dinas untuk Rakyat, Taj Yasin Jamu Peserta Susbanpim Banser
- Curi Motor di Laweyan Solo, Pemuda Asal Serang Banten Diringkus Polisi
- Gubernur Luthfi Blusukan ke Pasar Wage, Siapkan Revitalisasi Eks Kebakaran
- Purwokerto Half Marathon 2026, Dongkrak Ekonomi dari Ajang Lomba Lari
- Meriah, 6.000 Pelari Ikuti Purwokerto Half Marathon 2026
- 6.000 Pelari Bakal Ramaikan Purwokerto Half Marathon, Ungkit Sport Tourism dan Ekonomi Lokal
Resmi Dibuka, TATAH 2026 Angkat Seni Ukir Jepara ke Level Mahakarya

Keterangan Gambar : Menteri Kebudayaan Fadli Zon didampingi Bupati Jepara Witiarso Utomo melihat pameran seni ukir berskala nasional bertajuk TATAH 2026 di Ruang Pamer Temporer A, Museum Nasional Indonesia Jakarta, Rabu (29/4/2026).
Jakarta, infojateng.id – Pameran seni ukir berskala nasional bertajuk TATAH 2026 resmi dibuka pada Rabu (29/4/2026). Mengusung tema besar Suluk - Sulur - Jepara, pameran yang digelar di Museum Nasional Indonesia mulai 29 April hingga 5 Juli 2026 ini membawa mahakarya ukiran Jepara keluar dari citra komoditas massal menuju panggung seni murni (fine art) bernilai tinggi.
Menteri Kebudayaan Fadli Zon, saat membuka pameran,
menyoroti pencapaian artistik dan akar sejarah tradisi ukir yang begitu
panjang.
"Seni ukir Jepara ini sudah berakar panjang di
dalam sejarah kita. Paling tidak beberapa ratus tahun, 500 tahun lebih. Dan
diawali dari ukiran-ukiran yang ada di Masjid Mantingan," ujar Fadli Zon.
Baca Lainnya :
- “Ngobras”, Cara BPS Batang Sosialisasikan Sensus Ekonomi0
- Tim Super Priba Batang Juarai Allievo Futsal Championship0
- Regenerasi Jadi Fokus Utama Penyelamatan Batik Rifaiyah0
- Temu Kangen, Ahmad Luthfi: Satu Nafas Bangun Jawa Tengah0
- Investasi Kabupaten Batang Tembus Rp3,88 Triliun, Jadi Magnet Investor0
Ia menambahkan, karya-karya yang dipamerkan,
menunjukkan tingkat keterampilan yang luar biasa.
Fadli Zon berharap pameran ini membuka mata masyarakat
luas bahwa talenta seniman Indonesia juga luar biasa pada medium kayu, bukan
hanya di atas kanvas.
Lebih
dari Keterampilan, Sebuah Laku Asketik
Kurator pameran, Suwarno, menjelaskan makna mendalam
di balik pemilihan tajuk Suluk - Sulur - Jepara yang dirancang selama satu
tahun terakhir.
"Seni ukir adalah tidak hanya persoalan
kepiawaian keterampilan, tetapi juga soal pengetahuan, soal laku, bahkan laku
asketik, pertapaan estetik, mengkreasi bentuk," jelas Suwarno.
Ia menegaskan, pengunjung tidak akan menemukan produk
yang sekadar melayani pesanan konsumen industri.
"Sesungguhnya Bapak Ibu nanti akan menemukan
seniman-seniman pada level maestro yang bekerja dan berkarya atas dorongan
ekspresi pribadi," terangnya.
Hal senada ditegaskan oleh Bupati Jepara Witiarso
Utomo. Ia menyebut tatah (alat pahat) bukan sekadar perkakas, melainkan entitas
spiritual.
"Tatah adalah perpanjangan tangan, bahkan perpanjangan
laku spiritual dan jiwa para pengukir. Dari setiap ketukannya, lahir karya yang
tidak hanya indah, tetapi juga sarat makna," kata Witiarso.
Ia menekankan pesan kuat bagi dunia, "Jepara
tidak hanya menghasilkan produk. Jepara memproduksi makna, identitas, dan
peradaban."
Apresiasi
Tertinggi untuk Pahlawan di Kesunyian
Masuknya seni ukir ke Museum Nasional menjadi sejarah
baru bagi industri furnitur dan kerajinan. Ketua Umum HIMKI Pusat, Abdul Sobur,
sangat mengapresiasi terobosan ini.
"Kami menyadari bahwa tradisi di lapangan,
karya-karya kami dalam hal ini ukir, memang menjadi produk, menjadi barang yang
diperdagangkan. Tetapi hari ini, ukir Jepara menempati posisi tertinggi. Luar
biasa bahkan menempati posisi bukan di galeri tapi di museum," ungkap
Sobur, yang juga mengingatkan bahwa ekosistem ukir ini menjadi tumpuan bagi
ratusan ribu lapangan kerja di Jepara Raya.
Sementara itu, Ketua Pelaksana TATAH 2026, Veronica
Rompies, dalam sambutannya memberikan penghormatan khusus kepada para seniman
di akar rumput. Di balik gemerlapnya pameran di Jakarta, ada para penjaga
warisan yang bekerja tanpa sorotan kamera.
"Di sudut-sudut desa di Jepara, ada tangan-tangan
pengukir yang konsisten berkarya karena cintanya pada seni ukir. Meski nama mereka
tidak selalu dapat dikenal, tidak selalu didengar. Kepada mereka sesungguhnya
kita memiliki hutang," tutur Veronica.
Ia berharap pameran ini membawa dampak konkret yang
tidak berhenti pada seremoni semata.
"Kami berharap dampak TATAH tidak hanya berhenti
di decak kagum, namun dapat dirumuskan menjadi sebuah sistem yang membuahkan
solusi nyata untuk kelayakan, keberlanjutan, dan kesejahteraan para pahlawan
ukir penjaga warisan yang namanya tidak selalu kita kenal," pungkasnya.
Acara seremonial yang di gelar di Museum Nasional
Indonesia ini turut dihadiri oleh wakil ketua MPR RI Lestari Moerdijat, wakil
Menteri Ekonomi Kreatif (Wamen Ekraf) Irene Umar, Menteri Pendidikan dan
Kebudayaan Indonesia pada tahun 1993 hingga tahun 1998 Wardiman Djojonegoro, sejumlah
kedubes negara sahabat, para tokoh nasional dan seniman. (eko/redaksi)











