Batang, Infojateng.id – Pelantikan Pengurus Barada Senam Sehat Indonesia Wai Tan Kung (SSI-WTK) Kabupaten Batang dan Peringatan HUT Ke-36 SSI-WTK Badan penyelenggara kabupaten (Barakab) Batang secara resmi telah dilantik oleh Ketua SSI Wai Tan Kung Baraprov Jawa Tengah Budi Prayitno.
Pelantikan pengurus Barada SSi-WTK diselenggarakan di Aula Bupati Batang, Kabupaten Batang, Sabtu (15/6/2024).
Penjabat (Pj) Bupati Batang Lani Dwi Rejeki mengatakan, SSI-WTK telah hadir di Kabupaten Batang selama 36 tahun dan telah memberikan kontribusi yang besar bagi kesehatan dan kebugaran masyarakat.
Senam ini tidak hanya menyehatkan jasmani, tetapi juga rohani. Gerakannya yang mudah dan musiknya yang ceria membuat senam ini digemari oleh semua kalangan usia.
“Kepada pengurus baru SSI-WTK Kabupaten Batang, saya ucapkan selamat atas pelantikannya. Saya harap saudara-saudari dapat menjalankan amanah ini dengan sebaik-baiknya. Saya yakin dan percaya bahwa dengan kepemimpinan yang baru, SSI-WTK Kabupaten Batang akan semakin maju dan berkembang,” kata Lani dalam sambutannya.
Dengan semangat kebersamaan dan gotong-royong, setiap pengurus dapat menjalankan tugas dengan baik dan mewujudkan program-program yang bermanfaat bagi masyarakat Batang.
Lani juga menyebutkan bahwa, sehat bukan hanya fisik, tetapi juga mental dan sosial. Olahraga merupakan salah satu faktor penting dalam meningkatkan kesehatan dan kebugaran masyarakat.
“Oleh karena itu, saya mengajak kepada seluruh masyarakat Kabupaten Batang untuk membudayakan berolahraga secara rutin,” tegasnya.
Menurut Lani, senam SSI-WTK dapat menjadi salah satu pilihan yang tepat untuk berolahraga.
Dia berharap, kepada seluruh pengurus SSI-WTK Kabupaten Batang, dapat bersinergi dengan pemerintah daerah dalam memajukan olahraga di Kabupaten Batang.
Sementara itu, Ketua Barada SSI-WTK Jateng Budi Prayitno menerangkan, kepengurusan di tingkat Jateng, saat ini telah terbentuk di 29 kabupaten/kota.
“Sebelumnya ada 35 kepengurusan, namun lambat laun ada 6 kabupaten yang tidak aktif,” ungkap Budi.
“Penyebab utamanya karena pengurusnya sudah lansia semua, jadi tidak regenerasi kepengurusan. Kalau senamnya tetap ada, cuma regenerasi pengurus yang perlu diintensifkan lagi,” lanjutnya.
Budi juga mengatakan bahwa, mengingat senam tersebut identik dengan lansia, maka perlu ada sinergitas dengan Persatuan Wredatama Republik Indonesia (PWRI).
“Kepengurusannya ada hingga tingkat desa, kalau PWRI bisa digerakkan tentu keanggotaannya bertambah,” tandasnya. (eko/redaksi)