Batang, infojateng.id – Setelah sekian lama diperjuangkan oleh para ahli kesehatan anak, bantuan Susu Pangan Medik Khusus (PMK) kini mulai didistribusikan melalui Rumah Sakit Umum Daerah (RSUD) Batang.
Kehadiran susu tinggi kalori ini menjadi angin segar bagi orang tua yang memiliki balita dengan masalah gizi buruk maupun gizi kurang.
Dokter Spesialis Anak RSUD Batang Tan Evi Susanti mengungkapkan, bahwa program ini merupakan buah perjuangan panjang Ikatan Dokter Anak Indonesia (IDAI).
Menurutnya, kunci keberhasilan penanganan stunting adalah pelibatan dokter anak dalam menentukan alur penanganan medis yang tepat.
“Ini sebetulnya jawaban dari perjuangan kita di IDAI. Dulu dokter anak itu enggak pernah diajak dalam program penurunan stunting, makanya enggak berhasil,” kata Evi saat ditemui di RSUD Batang, Kamis (8/1/2025).
Berbeda dengan susu pertumbuhan yang banyak beredar di pasaran, susu PMK atau Pangan Medik Khusus ini tidak bisa dibeli secara bebas.
Evi juga menjelaskan bahwa, susu ini bersifat seperti obat yang harus melalui resep dokter karena memiliki kandungan kalori yang dihitung secara presisi sesuai kebutuhan medis anak.
“Susu PMK ini tinggi kalori. Mereknya seperti Infatrini atau Pediasure Complete. Itu sebetulnya harus sesuai dengan resep dokter, enggak bisa sembarangan dibeli. Karena perhitungan berapa kalinya itu harus berdasarkan kalorinya,” terangnya.
Selama ini, banyak pasien gizi buruk di RSUD Batang yang terkendala biaya untuk melanjutkan terapi nutrisi setelah pulang dari rumah sakit.
“Kita sudah obati, kasih edukasi, pasang selang makan (NGT), tapi lanjutannya gimana? Pasien mau beli sendiri juga harganya mahal. Makanya bantuan ini sangat penting,” ujarnya.
Meskipun stok susu tersedia cukup banyak, sekitar 1.000 kotak yang baru saja tiba bulan lalu, pihak RSUD Batang memberlakukannya dengan skrining yang sangat ketat.
“Saat ini, baru dua orang anak yang resmi masuk dalam program bantuan tersebut,” ungkapnya.
Tan Evi juga menekankan bahwa, kesuksesan program ini bukan hanya soal susunya, melainkan komitmen orang tua dalam memberikan nutrisi tersebut secara berlanjut.
“Kita akan skrining. Ibunya harus semangat, karena kadang ada yang diedukasi tapi sulit. Ini programnya untuk 6 bulan, karena minimal 3 bulan baru berat badannya bisa naik ke arah normal. Dari gizi buruk ke gizi kurang, atau dari gizi kurang ke normal,” tegasnya.
Saat ini, diperkirakan ada sekitar 10 hingga 15 anak di RSUD Batang yang memerlukan intervensi susu khusus ini.
Namun, tantangan di lapangan masih sering ditemui, seperti anak yang tidak cocok (diare) hingga orang tua yang enggan anaknya dipasang selang makan.
Bagi masyarakat Kabupaten Batang yang merasa anaknya memiliki masalah pertumbuhan, Tan Evi mempersilakan untuk berkonsultasi langsung ke RSUD Batang.
Untuk sementara, program bantuan susu PMK ini memang baru tersedia melalui jalur RSUD Batang.
“Masyarakat bisa datang konsultasi. Nanti kita skrining dulu status gizinya sampai mana. Kalau memang sesuai kriteria dan orang tuanya mau diedukasi, pemberian susu itu bisa kita lakukan,” pungkasnya.
Dengan stok yang ada saat ini, RSUD Batang diproyeksikan mampu mengintervensi sekitar 20 anak dengan alokasi minimal 50 kotak per anak untuk menjamin perbaikan gizi yang signifikan. (eko/redaksi)