- Warga Demak Terdampak Rob Kini Bernapas Lega dapat Bantuan RTLH Pemprov Jateng
- Stok GPM Kabupaten Semarang Ludes Diserbu Warga
- Ketua LP Ma’arif NU Jateng Gelar Evaluasi Program dan Rencana Kerja Terencana 2026
- Pemprov Jateng Dorong Pembangunan Dermaga Apung untuk Nelayan Bonang Demak
- PWI Pati dan KSH Bagikan Ratusan Takjil di Alun-alun, Ludes dalam Menit
- Bulog Pati Pastikan MinyaKita di Tlogowungu Tak Langka, Harga Sesuai HET
- Stok Beras 372 Ribu Ton, Bulog Jateng Jamin Pasokan Lebaran Aman
- Polda Jateng Bongkar Pabrik Mie Berformalin di Boyolali, Produksi Hingga 1,5 Ton Sehari
- Komisi D DPRD Pati Panggil Plt. Sekretaris Disdikbud Paryanto, Narso Pilih Bungkam
- Puncak Arus Mudik Dipresdiksi pada 14-15 Maret, Waspadai Titik Lelah di Jalur Tol Trans Jawa
Warga Demak Terdampak Rob Kini Bernapas Lega dapat Bantuan RTLH Pemprov Jateng

Keterangan Gambar : Wakil Gubernur Jawa Tengah, Taj Yasin Maimoen, meninjau rumah warga terdmapak rob di Dukuh Kongsi, Desa Purworejo, Kecamatan Bonang, Kabupaten Demak, Kamis (12/3/2026).
Semarang, infojateng.id - Untuk masuk rumah Noryatin (58), harus merunduk dalam-dalam. Bukan sekadar bentuk kesopanan, melainkan karena atap rumah warga Dukuh Kongsi, Desa Purworejo, Kecamatan Bonang, Kabupaten Demak ini hanya menyisakan jarak satu meter dari permukaan jalan. Lantainya terus diurug karena kepungan Rob.
Kondisi memprihatinkan ini menjadi
"makanan" sehari-hari bagi Noryatin dan suaminya yang menganggur
sejak terkena PHK karena pandemi COVID-19, serta kedua anaknya.
Selama tiga tahun terakhir, mereka
hidup dalam kepungan air rob yang tak kenal waktu. Rumah berukuran 5x12 meter
itu tampak tenggelam ditelan peninggian jalan dan naiknya air laut.
Baca Lainnya :
Untuk menjaga ruang tamu dan kamar
tetap kering, sebuah mesin pompa air harus terus menderu selama 24 jam nonstop.
"Pompa nyala terus 24 jam. Kalau
airnya besar, pakai mesin yang lebih gede lagi. Pintu masuk juga saya bendung
pakai papan, dan tumpukan bata hebel," tutur Noryatin dengan nada lirih,
Kamis (12/3/2026).
Meski sudah dibendung dan dipompa,
rembesan air tetap muncul di sela-sela lantai dan dinding. Dampaknya nyata bagi
kesehatan keluarga berupa serangan nyamuk yang masif dan rasa gatal di kulit
akibat kelembapan yang ekstrem.
"Nyamuknya banyak, gatal,"
katanya.
Namun, awan mendung di kehidupan
Noryatin sedikit tersingkap saat Wakil Gubernur Jawa Tengah, Taj Yasin Maimoen,
datang ke rumahnya, Kamis (12/3/2026).
Kehadiran tokoh yang akrab disapa Gus
Yasin ini bukan sekadar meninjau. Melainkan membawa bantuan rehab Rumah Tidak
Layak Huni (RTLH) senilai Rp 20 juta.
Menerima bantuan tersebut, mata
Noryatin berkaca-kaca. Ia mengaku sangat terharu karena akhirnya memiliki modal
untuk meninggikan huniannya agar tidak lagi menjadi "rumah bawah
tanah".
"Senang sekali, terharu.
Rencananya uang ini untuk beli hebel dan meninggikan rumah. Terima kasih Pak
Gus Yasin," ucapnya penuh syukur.
Mewakili Gubernur Jateng Ahmad Luthfi,
Gus Yasin menegaskan bantuan ini merupakan langkah darurat untuk memastikan
keluarga Noryatin memiliki tempat tinggal yang lebih layak dan sehat.
Ia juga meminta warga sekitar untuk
bergotong-royong membantu proses renovasi rumah tersebut.
"Rencananya kita naikkan
bangunannya secara langsung karena kalau rumah apung tidak memungkinkan di
lokasi ini. Kita naikkan supaya lebih tinggi dari rob," jelas Gus Yasin.
Lebih lanjut, Wagub memaparkan
strategi besar pemerintah dalam menangani masalah rob di pesisir Jawa Tengah.
Salah satunya melalui rencana
pembangunan giant sea wall yang membentang dari Jepara hingga Kendal, yang saat
ini masih dalam tahap pembahasan intensif.
Pemprov juga mulai menyiapkan
pembangunan hybrid sea wall sebagai tanggul penahan rob.
"Saat ini baru pembahasan,
selesai mungkin tahun ini," jelasnya.
Di sisi lain, Gus Yasin juga menyoroti
persoalan sampah yang kerap menumpuk di kawasan rob dan berpotensi memicu
masalah kesehatan.
Ia mendorong adanya pengadaan alat
pemusnah sampah di tingkat RT melalui kolaborasi dengan inovasi dari perguruan
tinggi.
"Coba kita nanti dorong per RT,
kalau lihat kawasannya untuk dikumpulkan, dibawa keluar, rasa-rasanya susah.
Jadi memang harusnya per RT langsung memiliki pembakaran masing-masing,"
pungkasnya. (eko/redaksi)










