- Bawa Flare Hingga Miras, Puluhan Suporter Persis Solo Diamankan Polisi
- Perkuat Ketahanan Pangan, Polda Jateng Panen Raya Jagung Serentak di Boyolali
- ODGJ Lempar Batu Pengguna Jalan di Pati Diamankan Polisi
- RSUD Margono Disiapkan Jadi Pusat Layanan Kesehatan Banyumas Raya
- Info Lur! Beasiswa Santri Pemprov Jateng Masih Dibuka
- Rumah Dinas untuk Rakyat, Taj Yasin Jamu Peserta Susbanpim Banser
- Curi Motor di Laweyan Solo, Pemuda Asal Serang Banten Diringkus Polisi
- Gubernur Luthfi Blusukan ke Pasar Wage, Siapkan Revitalisasi Eks Kebakaran
- Purwokerto Half Marathon 2026, Dongkrak Ekonomi dari Ajang Lomba Lari
- Meriah, 6.000 Pelari Ikuti Purwokerto Half Marathon 2026
130 Desa Rawan Bencana di Rembang Ikuti Penilaian Destana

Keterangan Gambar : Sebanyak 130 desa yang masuk kategori rawan bencana di Kabupaten Rembang mengikuti penilaian Destana di Aula Lantai 4 Kantor Setda Rembang, Rabu (15/4/2026). Dok. Dinkominfo Rembang
Rembang, infojateng.id –
Sebanyak 130 desa yang masuk kategori rawan bencana di Kabupaten Rembang
mengikuti penilaian Desa Tangguh Bencana (Destana), di Aula Lantai 4 Kantor
Setda Rembang, Rabu (15/4/2026).
Kegiatan tersebut bertujuan untuk mendorong desa agar
lebih siap dan sigap dalam menghadapi
potensi bencana.
Pelaksana
Harian (Plh) Bupati Rembang, Hanies Cholil Barro’ menyampaikan, dari total 199
desa rawan bencana di Rembang, saat ini baru 33 desa yang telah berstatus
Destana.
Baca Lainnya :
- Awal 2026 Pemkab Rembang Tangani 11 Ruas Jalan, Perbaikan Terus Berlanjut0
- Tingkatkan Literasi, DPK Blora Gelar Rakor Gerakan Sedekah Buku0
- Pembangunan Embung Diminta Jadi Solusi Atasi Banjir Cepu0
- UNICEF Tekankan Pentingnya RAD-PGBPSDL Dalam Perbaikan Gizi Masyarakat0
- Kebijakan Fortifikasi Pangan Dinilai Percepat Penurunan Stunting 0
“Ratusan
desa rawan bencana ini mengikuti penilaian dengan tiga level, yakni pratama,
madya, dan utama. Level tersebut menunjukkan tingkat kesiapsiagaan desa. Hasil
penilaian akan keluar pekan depan,” jelas Gus Hanies, sapaan akrabnya.
Ia
menambahkan, penilaian mencakup berbagai aspek, mulai dari infrastruktur,
regulasi desa, hingga keberpihakan anggaran dalam penanggulangan bencana.
“Kriterianya
bisa dilihat dari infrastruktur, regulasi di desa, serta alokasi anggaran untuk
menghadapi bencana,” imbuhnya.
Pemkab
Rembang menargetkan seluruh desa rawan bencana, sebanyak 199 desa, dapat menjadi
Destana pada 2029, sebagaimana tertuang dalam Rencana Pembangunan Jangka
Menengah Daerah (RPJMD).
Gus Hanies
menegaskan, kesiapsiagaan bencana merupakan tanggung jawab bersama, tidak hanya
pemerintah, tetapi juga masyarakat, akademisi, dunia usaha, dan media.
Sementara
itu, Kepala Desa Kajar, Widayat, menyebut desanya hampir setiap tahun mengalami
bencana longsor. Ia menilai kegiatan tersebut sangat bermanfaat bagi desa.
“Di desa
kami hampir tiap tahun terjadi longsor. Kami juga punya relawan Tagana.
Kegiatan ini sangat positif, karena setiap desa mendapat pembelajaran terkait
penanganan bencana,” kata dia.
Sebagai
informasi, Desa Tangguh Bencana (Destana) merupakan program pemberdayaan
masyarakat desa agar mandiri dalam mengenali ancaman, mengurangi risiko, serta
mampu memulihkan diri dari dampak bencana. (eko/redaksi)











