- Bawa Flare Hingga Miras, Puluhan Suporter Persis Solo Diamankan Polisi
- Perkuat Ketahanan Pangan, Polda Jateng Panen Raya Jagung Serentak di Boyolali
- ODGJ Lempar Batu Pengguna Jalan di Pati Diamankan Polisi
- RSUD Margono Disiapkan Jadi Pusat Layanan Kesehatan Banyumas Raya
- Info Lur! Beasiswa Santri Pemprov Jateng Masih Dibuka
- Rumah Dinas untuk Rakyat, Taj Yasin Jamu Peserta Susbanpim Banser
- Curi Motor di Laweyan Solo, Pemuda Asal Serang Banten Diringkus Polisi
- Gubernur Luthfi Blusukan ke Pasar Wage, Siapkan Revitalisasi Eks Kebakaran
- Purwokerto Half Marathon 2026, Dongkrak Ekonomi dari Ajang Lomba Lari
- Meriah, 6.000 Pelari Ikuti Purwokerto Half Marathon 2026
Harga Kedelai Melonjak, Perajin Tempe di Jepara Perkecil Ukuran Produk
Keterangan Gambar: Salah satu perajin tempe, Nursanto (40), warga Desa Pecangaan Wetan, Kecamatan Pecangaan, Jepara.
Jepara, Infojateng.id – Kenaikan harga kedelai impor yang dipicu situasi global mulai berdampak pada perajin tempe rumahan di Kabupaten Jepara, Jawa Tengah. Para perajin terpaksa menyiasati kondisi dengan memperkecil ukuran produk agar tetap bertahan.
Salah satu perajin tempe, Nursanto (40), warga Desa Pecangaan Wetan, Kecamatan Pecangaan, mengungkapkan bahwa harga kedelai saat ini mencapai Rp 11.000 per kilogram, naik signifikan dari sebelumnya Rp 8.600 per kilogram.
“Kenaikan harga kedelai sangat cepat. Sekarang sudah Rp 11.000 per kilogram, sebelumnya Rp 8.600. Kenaikan ini sudah terjadi sejak sebelum Lebaran,” ujarnya, Kamis (2/4/2026).
Dalam sehari, Nursanto bersama empat karyawannya mampu mengolah sekitar 3 kuintal kedelai untuk produksi tempe. Ia mengaku menggunakan kedelai impor asal Amerika Serikat karena dinilai memiliki kualitas lebih baik. Meski harga naik, ketersediaan bahan baku di pasaran masih relatif aman.
Tak hanya kedelai, biaya produksi juga semakin terbebani akibat kenaikan harga bahan pendukung seperti plastik pembungkus. Harga plastik yang sebelumnya sekitar Rp 36 ribu per kilogram kini melonjak menjadi Rp 70 ribu per kilogram.
“Kenaikan plastik ini kemungkinan karena bahan bakunya juga impor, jadi ikut terdampak,” jelasnya.
Menghadapi lonjakan biaya tersebut, Nursanto memilih tidak langsung menaikkan harga jual tempe. Sebagai solusi, ia memperkecil ukuran produk agar tetap bisa dijangkau konsumen.
“Ukuran tempe kami perkecil. Tapi kalau kondisi terus seperti ini, tidak menutup kemungkinan harga juga ikut naik. Produksi juga bisa turun karena ukuran menyusut,” katanya.
Ia menilai kenaikan harga bahan baku tidak lepas dari situasi global, termasuk konflik di Timur Tengah yang berdampak pada rantai pasok internasional.
“Informasinya karena efek konflik di Timur Tengah,” tambahnya.
Nursanto berharap kondisi global segera membaik sehingga harga kedelai kembali stabil. Ia juga berharap pemerintah dapat mengambil langkah untuk membantu menjaga kestabilan harga bahan baku bagi para pelaku usaha kecil.
Kondisi ini menjadi tantangan tersendiri bagi perajin tempe skala rumahan di Jepara, yang harus tetap bertahan di tengah tekanan biaya produksi yang terus meningkat. (one/redaksi)











