- Bawa Flare Hingga Miras, Puluhan Suporter Persis Solo Diamankan Polisi
- Perkuat Ketahanan Pangan, Polda Jateng Panen Raya Jagung Serentak di Boyolali
- ODGJ Lempar Batu Pengguna Jalan di Pati Diamankan Polisi
- RSUD Margono Disiapkan Jadi Pusat Layanan Kesehatan Banyumas Raya
- Info Lur! Beasiswa Santri Pemprov Jateng Masih Dibuka
- Rumah Dinas untuk Rakyat, Taj Yasin Jamu Peserta Susbanpim Banser
- Curi Motor di Laweyan Solo, Pemuda Asal Serang Banten Diringkus Polisi
- Gubernur Luthfi Blusukan ke Pasar Wage, Siapkan Revitalisasi Eks Kebakaran
- Purwokerto Half Marathon 2026, Dongkrak Ekonomi dari Ajang Lomba Lari
- Meriah, 6.000 Pelari Ikuti Purwokerto Half Marathon 2026
Jateng Jadi “Pilot Project” Penguatan Kemitraan MBG dari Kemenko Pangan

Keterangan Gambar : Deputi Bidang Koordinasi Sumber Daya Maritim Kemenko Pangan, Dandy Satria Iswara membuka di sela acara FGD Penguatan Kemitraan MBG, di Ghradhika Bhakti Praja, Senin (13/4/2026).
Semarang, infojateng.id - Keberhasilan pelaksanaan program Makan Bergizi Gratis (MBG) di Jawa Tengah, mendorong Kemenko Pangan menjadikan provinsi yang dipimpin Gubernur Ahmad Luthfi dan wakilnya Taj Yasin Maimoen, tersebut sebagai "pilot project" penguatan kemitraan, antara sektor perikanan, UMKM, dan Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG).
Program itu diharapkan mampu meningkatkan
konsumsi ikan, sekaligus memperkuat ekonomi lokal.
Deputi Bidang Koordinasi Sumber Daya Maritim
Kementerian Koordinator Bidang Pangan, Dandy Satria Iswara mengatakan, dukungan
Jawa Tengah terhadap program MBG dinilai sangat kuat, baik dari sisi jumlah
SPPG, maupun kepatuhan terhadap standar keamanan pangan.
Baca Lainnya :
- Kejurprov Jateng: Tiga Klub Renang Jepara Borong 21 Medali0
- 1.460 Jemaah Haji Demak Siap Berangkat, Catat Jadwalnya0
- Pemkab Demak Terus Perkuat Strategi Pemberantasan Rokok Ilegal0
- Sejumlah Rumah Warga Desa Jamus Rusak Diterjang Angin Puting Beliung0
- Rembang Perkuat Program Gizi dan Posyandu, Ini Tujuannya0
Dia menyebut, banyak dapur SPPG di Jawa Tengah
telah memperoleh sertifikasi, dan secara aktif menggandeng UMKM lokal untuk
penyediaan bahan baku.
Hingga saat ini, potensi penerima manfaat MBG di
Jawa Tengah mencapai 9,63 juta orang, dari target nasional 82,9 juta penerima
manfaat. Artinya, Jawa Tengah memegang hampir 11 persen dari total penerima
manfaat secara nasional.
“Selain itu, sekitar 3.800 SPPG telah
operasional, dengan tingkat pencapaian pembangunan mencapai sekitar 97 persen
dari target yang ditetapkan,” ujar Dandy, saat membuka acara Focus Group
Discussion (FGD) Penguatan Kemitraan MBG, di Ghradhika Bhakti Praja, Senin
(13/4/2026).
Menurut dia, pencapaian tersebut tidak hanya
dari sisi kuantitas tetapi juga kualitas. Hampir 2.000 SPPG telah memiliki
sertifikasi Sanitasi Laik Higiene (SLHS), ratusan lainnya bersertifikat halal, serta
lebih dari 1.300 tenaga chef telah tersertifikasi.
Standar keamanan pangan berbasis HACCP juga
mulai diterapkan di sejumlah SPPG sebagai bagian dari peningkatan mutu layanan.
“Kondisi ini menunjukkan Jawa Tengah sebagai
provinsi dengan implementasi MBG yang masif, patuh, dan siap secara sistem,”
lanjutnya.
Ditambahkan, program MBG merupakan investasi
jangka panjang untuk meningkatkan kualitas sumber daya manusia menuju Indonesia
Emas 2045.
Dia menjelaskan, sekitar 70 persen anggaran MBG
digunakan untuk pembelian bahan pangan, sehingga berdampak langsung pada
penggerakan ekonomi lokal, mengingat belanja bahan pangan tersebut kembali
kepada masyarakat, termasuk petani, nelayan, dan pelaku UMKM.
Dandy juga menyoroti dukungan infrastruktur di
Jawa Tengah yang dinilai kuat. Lebih dari 8.500 koperasi desa dan kelurahan
Merah Putih telah terbentuk, dan sekitar 6.200 di antaranya sudah operasional.
Ekosistem ini dinilai dapat memperkuat konektivitas antara produksi pangan dan
kebutuhan SPPG.
Dalam penguatan rantai pasok, sektor perikanan
menjadi fokus utama, karena memiliki potensi besar baik dari perikanan tangkap
maupun budidaya. Komoditas seperti lele, nila, patin, tongkol, dan tuna,
dinilai sebagai sumber protein yang terjangkau dan melimpah.
Pemerintah mendorong agar ikan tidak hanya
menjadi menu pelengkap, tetapi menjadi menu utama dalam program MBG.
Dia menuturkan penguatan juga dilakukan melalui
pembangunan Kampung Nelayan Merah Putih yang telah siap infrastruktur di
beberapa daerah Jawa Tengah, di antaranya Jepara, Pati, Kebumen, dan Purworejo.
Secara nasional, pemerintah telah membangun 65
kampung nelayan, dan menargetkan tambahan 35 lokasi, sehingga totalnya mencapai
sekitar 1.300 kampung nelayan di seluruh Indonesia.
“Selain itu, pengembangan budidaya melalui
bioflok tematik juga telah dilakukan di sejumlah wilayah, seperti Batang,
Kendal, Magelang, Kabupaten Semarang, dan Boyolali. Langkah ini memperlihatkan
Jawa Tengah memiliki kekuatan hulu yang lengkap, untuk mendukung kebutuhan
bahan baku program MBG,” tegasnya.
Di sisi lain, pelaku UMKM menyambut positif
penguatan kemitraan tersebut. Pemilik usaha olahan ikan nila asal Banyumas, Sri
Narsih, mengatakan produknya mulai dilirik untuk memenuhi kebutuhan menu SPPG.
Olahan nila crispy yang diproduksinya menjadi
alternatif sumber protein hewani yang praktis dan tahan lama, sehingga cocok
untuk distribusi dalam skala besar.
“Saat ini produk kami telah masuk ke sejumlah
SPPG di beberapa daerah. Permintaan yang meningkat membuatnya menambah pasokan
bahan baku dari berbagai wilayah di Jawa Tengah. Kami berharap penguatan
kemitraan ini dapat memperluas pasar produk olahan ikan, serta meningkatkan
kesejahteraan pelaku UMKM,” tuturnya.
Sementara itu, Pelaksana Tugas Asisten Perekonomian
dan Pembangunan Sekda Jawa Tengah, Hanung Triyono, menyampaikan potensi
perikanan Jawa Tengah sangat besar, karena memiliki wilayah pesisir utara dan
selatan.
Dia menilai program MBG menjadi momentum untuk
meningkatkan konsumsi ikan, sekaligus mendorong hilirisasi produk perikanan.
“Penguatan kemitraan antara nelayan, pembudidaya, UMKM, dan SPPG diharapkan mampu meningkatkan nilai tambah sektor perikanan. Melalui sinergi tersebut, Jawa Tengah diharapkan dapat memperkuat ekonomi lokal, meningkatkan kualitas gizi masyarakat, serta menjadikan sektor perikanan lebih berdaya saing dan berkelanjutan,” pungkasnya. (eko/redaksi)











