- Bawa Flare Hingga Miras, Puluhan Suporter Persis Solo Diamankan Polisi
- Perkuat Ketahanan Pangan, Polda Jateng Panen Raya Jagung Serentak di Boyolali
- ODGJ Lempar Batu Pengguna Jalan di Pati Diamankan Polisi
- RSUD Margono Disiapkan Jadi Pusat Layanan Kesehatan Banyumas Raya
- Info Lur! Beasiswa Santri Pemprov Jateng Masih Dibuka
- Rumah Dinas untuk Rakyat, Taj Yasin Jamu Peserta Susbanpim Banser
- Curi Motor di Laweyan Solo, Pemuda Asal Serang Banten Diringkus Polisi
- Gubernur Luthfi Blusukan ke Pasar Wage, Siapkan Revitalisasi Eks Kebakaran
- Purwokerto Half Marathon 2026, Dongkrak Ekonomi dari Ajang Lomba Lari
- Meriah, 6.000 Pelari Ikuti Purwokerto Half Marathon 2026
Cahaya Obor di Fajar Paskah: Ribuan Jemaat GITJ Margokerto Jepara Gelar Pawai Subuh Suci
Keterangan Gambar: Ribuan jemaat Gereja Injili di Tanah Jawa (GITJ) Margokerto turun ke jalan untuk merayakan kebangkitan Yesus Kristus melalui tradisi Pawai Subuh Suci, Minggu (5/4/2026).
Jepara, infojateng.id – Suasana khidmat menyelimuti Desa Bondo, Jepara, saat ribuan jemaat Gereja Injili di Tanah Jawa (GITJ) Margokerto turun ke jalan untuk merayakan kebangkitan Yesus Kristus melalui tradisi Pawai Subuh Suci, Minggu (5/4/2026). Tradisi yang telah terjaga selama 38 tahun ini kembali menjadi pusat perhatian sebagai salah satu perayaan Paskah terbesar di Bumi Kartini.
Prosesi yang Membelah Keheningan Fajar
Tepat pukul 03.30 WIB, ribuan warga jemaat yang terdiri dari anak-anak sekolah minggu, remaja, pemuda, hingga dewasa berkumpul di depan GITJ Margokerto. Acara dibuka dengan doa khusyuk oleh Pendeta Tri Atmono, M.Th., sebelum arak-arakan mulai bergerak membelah kegelapan subuh.
Lautan cahaya dari ratusan obor, lampion, dan lilin tampak mengular mengelilingi Padukuhan Margokerto. Sembari berjalan, para jemaat mengumandangkan kidung pujian dan mengenakan berbagai aksesori yang melambangkan kemenangan atas maut. Suasana sakral begitu terasa saat nyala api obor bersinergi dengan nyanyian syukur yang memuji kebesaran Tuhan.
Menang Tanpa Perang
Puncak prosesi berakhir di halaman belakang gereja untuk melaksanakan ibadah Subuh Suci. Dalam khotbahnya, Pdt. Tri Atmono mengangkat tema "Menang Tanpa Perang" yang merujuk pada kitab Roma 6:9-10. Pesan ini menekankan bahwa kebangkitan Kristus adalah kemenangan mutlak atas dosa dan maut yang membawa harapan baru bagi umat manusia.
Ketua Umum Majelis GITJ Margokerto, Eko Prasetyo, menjelaskan bahwa ritual ini bukan sekadar rutinitas, melainkan upaya menjaga kebersamaan.
"Harapan kami ada semangat yang baru dalam semua lini pelayanan, kebersamaan, persekutuan, serta mengembangkan kreativitas sebagai media kesaksian bagi warga masyarakat secara umum maupun luar daerah," ujar Eko.
Jejak Sejarah Sejak 1988
Meski GITJ Margokerto telah berdiri sejak tahun 1901 oleh Guru Injil Esrom, tradisi Pawai Subuh Suci ini secara spesifik dimulai pada tahun 1988. Menariknya, pawai ini awalnya diprakarsai oleh Ketua Komisi Sekolah Minggu saat itu, Krisworini, bersama para guru seperti Margaret Satumi, Sumarti, Hariyati, dan Sudarmi.
Awalnya, kegiatan ini hanya diperuntukkan bagi anak-anak sekolah minggu. Namun, seiring berjalannya waktu, antusiasme warga jemaat yang kini berjumlah sekitar 2.300 jiwa membuat kegiatan ini bertransformasi menjadi agenda besar yang melibatkan seluruh elemen gereja.
Kemeriahan dan Kebersamaan
Setelah ibadah usai, keceriaan berlanjut dengan pembagian telur Paskah dan makan bersama sebagai simbol persekutuan. Ketua Panitia, Kusbiyantoro, juga membagikan hadiah kepada peserta pawai terbaik untuk mengapresiasi kreativitas warga.
Turut hadir dalam acara tersebut Pendeta Pentakosta Fani S.Th, Pendeta Rano Surita, Guru Injil Elia Dwi Apriyanti, serta jajaran Majelis dan pengurus komisi. Rangkaian peringatan Paskah di GITJ Margokerto ini sebelumnya telah diawali dengan doa puasa pada akhir Maret, serta ibadah Jumat Agung dan Perjamuan Kudus pada 3 April lalu.(eko/lut/redaksi)











