- Bawa Flare Hingga Miras, Puluhan Suporter Persis Solo Diamankan Polisi
- Perkuat Ketahanan Pangan, Polda Jateng Panen Raya Jagung Serentak di Boyolali
- ODGJ Lempar Batu Pengguna Jalan di Pati Diamankan Polisi
- RSUD Margono Disiapkan Jadi Pusat Layanan Kesehatan Banyumas Raya
- Info Lur! Beasiswa Santri Pemprov Jateng Masih Dibuka
- Rumah Dinas untuk Rakyat, Taj Yasin Jamu Peserta Susbanpim Banser
- Curi Motor di Laweyan Solo, Pemuda Asal Serang Banten Diringkus Polisi
- Gubernur Luthfi Blusukan ke Pasar Wage, Siapkan Revitalisasi Eks Kebakaran
- Purwokerto Half Marathon 2026, Dongkrak Ekonomi dari Ajang Lomba Lari
- Meriah, 6.000 Pelari Ikuti Purwokerto Half Marathon 2026
Gandeng Rifa’iyah, Pemprov Jateng Kuatkan UMKM, Pendidikan Hingga Dakwah Berbasis Keteladanan

Keterangan Gambar : Wagub Jateng Taj Yasin Maimoen memberikan sambutan dalam acara Mukerwil V Rifa’iyah Jawa Tengah, di Gedung Pemuda Pemkab Temanggung, Minggu (26/4/2026).
Temanggung, infojateng.id – Pemerintah Provinsi (Pemprov) Jawa Tengah menegaskan arah kemitraannya dengan Jam’iyah Rifa’iyah tidak berhenti pada simbolik organisasi, tetapi menyasar penguatan ekonomi umat, akses pendidikan, dan ketahanan nilai keagamaan di tengah masyarakat.
Hal itu disampaikan Wakil Gubernur Jawa
Tengah Taj Yasin Maimoen, saat menghadiri pelantikan pengurus wilayah sekaligus
pembukaan Musyawarah Kerja Wilayah (Mukerwil) V Rifa’iyah Jawa Tengah, di
Gedung Pemuda Pemkab Temanggung, Minggu (26/4/2026).
Dalam sambutannya, tokoh yang akrab
disapa Gus Yasin ini menempatkan Rifa’iyah sebagai mitra strategis dalam
pembangunan berbasis komunitas Pemprov Jateng.
Baca Lainnya :
- Jemaah Haji Termuda Asal Magelang Jadi Sorotan, Begini Ceritanya0
- Calon Jemaah Haji Kloter 16 dan 17 Tiba di Donohudan, Petugas Kesehatan Lakukan Skrining0
- Dinkes Batang Cek Kesehatan Sopir Bus Pengantar Calon Jemaah Haji0
- 949 Jemaah Haji Batang Siap Diberangkatkan ke Tanah Suci0
- Tingkatkan Skill Peer Education Bagi PMR Lewat AKSIOMA0
Salah satu bentuk konkret yang sudah
berjalan adalah dukungan terhadap UMKM binaan Rifa’iyah, khususnya batik khas
Rifa'iyah dari Batang.
“Setiap ada kegiatan, kami sengaja
menghadirkan batik Rifa'iyah sebagai cinderamata,” kata wagub yang memimpin
Jawa Tengah bersama Gubernur Jateng Ahmad Luthfi tersebut.
Langkah tersebut menjadi bagian dari
strategi menghubungkan kekuatan sosial-keagamaan dengan ekonomi lokal.
Gus Yasin menilai, Rifa’iyah memiliki
basis jamaah kuat sekaligus tradisi produksi yang bisa dikembangkan sebagai
ekosistem ekonomi mandiri.
Di sektor pendidikan, Pemprov Jateng
juga membuka akses beasiswa bagi guru, kiai, dan santri, termasuk dari kalangan
Rifa’iyah. Program ini diharapkan mempercepat peningkatan kualitas SDM berbasis
pesantren tanpa sekat organisasi.
“Silakan dimanfaatkan. Kita ingin
kader-kader Rifa’iyah ikut maju lewat pendidikan. Tidak ada dikotomi, semua
punya kesempatan yang sama,” tegasnya.
Namun, pendekatan pembangunan itu tidak
dilepaskan dari fondasi nilai. Dalam sambutannya, Gus Yasin mengaitkan peran
organisasi keagamaan dengan pelajaran dari kisah Nabi Yunus dan Nabi Muhammad.
Ia menyoroti bagaimana dakwah tidak
selalu berbuah cepat, bahkan bisa dihadapkan pada penolakan. Nabi Yunus,
misalnya, sempat meninggalkan kaumnya di Ninawa karena tidak dihiraukan.
Namun justru setelah itu masyarakat
berbalik kepada tauhid. Sebaliknya, Nabi Muhammad mendapatkan penguatan melalui
peristiwa Isra Mikraj di tengah tekanan dakwah.
Dua kisah tersebut, menurut Gus Yasin,
memberi pesan yang sama bahwa konsistensi dan keteguhan lebih penting daripada
ukuran keberhasilan jangka pendek.
“Dakwah itu tidak boleh ‘ngambek’.
Didengar atau tidak, ada pengikut atau tidak, harus tetap jalan. Itu pelajaran
penting bagi pemimpin,” ujarnya.
Pesan ini sekaligus menjadi penegasan
bahwa organisasi seperti Rifa’iyah tidak boleh merasa kecil. Apalagi,
kontribusinya dalam khazanah keilmuan Islam di Jawa sudah meluas, bahkan
melintasi batas organisasi seperti Nahdlatul Ulama.
Ajaran dan karya Ahmad Rifa'i disebut
masih menjadi rujukan lintas kalangan, baik dalam bentuk kitab maupun syiiran
yang hidup di masyarakat pesantren.
“Banyak kiai di Jawa Tengah belajar dari
ulama Rifa’iyah. Ini menunjukkan pengaruhnya besar, bukan hanya internal, tapi
juga untuk umat secara luas,” tambahnya.
Karena itu, Pemprov Jateng memandang
penting sinergi lintas organisasi keagamaan untuk menjaga keseimbangan antara
penguatan agama dan kebangsaan.
Figur Ahmad Rifa’i sendiri telah diakui
sebagai pahlawan nasional, menegaskan peran historisnya dalam perjuangan Islam
sekaligus kemerdekaan Indonesia.
Melalui Mukerwil ini, pemerintah berharap
Rifa’iyah merumuskan program kerja yang tidak hanya memperkuat internal
organisasi, tetapi juga berdampak langsung pada masyarakat, baik dalam bidang
ekonomi, pendidikan, maupun sosial keagamaan.
“Kalau sinergi ini dijaga, maka bukan hanya organisasi yang kuat, tapi juga masyarakat dan negara,” pungkas Yasin. (eko/redaksi)











