- Bawa Flare Hingga Miras, Puluhan Suporter Persis Solo Diamankan Polisi
- Perkuat Ketahanan Pangan, Polda Jateng Panen Raya Jagung Serentak di Boyolali
- ODGJ Lempar Batu Pengguna Jalan di Pati Diamankan Polisi
- RSUD Margono Disiapkan Jadi Pusat Layanan Kesehatan Banyumas Raya
- Info Lur! Beasiswa Santri Pemprov Jateng Masih Dibuka
- Rumah Dinas untuk Rakyat, Taj Yasin Jamu Peserta Susbanpim Banser
- Curi Motor di Laweyan Solo, Pemuda Asal Serang Banten Diringkus Polisi
- Gubernur Luthfi Blusukan ke Pasar Wage, Siapkan Revitalisasi Eks Kebakaran
- Purwokerto Half Marathon 2026, Dongkrak Ekonomi dari Ajang Lomba Lari
- Meriah, 6.000 Pelari Ikuti Purwokerto Half Marathon 2026
HNSI BatangFokus Benahi Tambat Labuh Kapal
Keterangan Gambar: Wakil Bupati Suyono saat memberikan sambutan pada acara Muscab Pengurus HNSI di Pelabuhan Batang, Senin (13/4/2026). Dok. Diskominfo Batang
Batang, infojateng.id – Pengurus Himpunan Nelayan Seluruh Indonesia (HNSI) Kabupaten Batang menggelar Musyawarah Cabang (Muscab) di Pelabuhan Batang, Kabupaten Batang, Senin (13/4/2026).
Muscab yang digelar sebagai wadah
pencarian solusi atas jeritan para penjaga samudra itu, membahas hiruk-pikuk
dermaga dan deru mesin kapal.
Hadir di tengah-tengah para nelayan,
Wakil Bupati Batang Suyono memberikan suntikan semangat.
Baginya, HNSI bukan sekadar organisasi,
melainkan garda terdepan yang memegang kunci kesejahteraan masyarakat pesisir.
Salah satu isu krusial yang ia garis bawahi adalah mobilitas kapal yang kerap
terhambat.
“Kelancaran akses, termasuk lalu lintas
kapal, menjadi bagian penting dalam menunjang kesejahteraan nelayan,” jelas
Suyono.
Selain itu, lanjutnya, pemerintah juga
mendorong pengembangan Kampung Nelayan yang lokasinya direncanakan sekitar dua
kilometer ke arah selatan sebagai prioritas layanan bagi nelayan.
Persoalan lama yang seolah menjadi
"penyakit menahun" bagi nelayan Batang adalah pendangkalan alur
pelayaran. Sedimentasi yang kian menebal membuat kapal-kapal sulit bersandar
dan melaut. Namun, pemerintah daerah kini menawarkan solusi kreatif untuk
mengatasinya.
Suyono menjelaskan, bahwa material hasil
pengerukan nantinya tidak akan dibuang sia-sia, melainkan dikelola kembali
untuk kepentingan infrastruktur nelayan itu sendiri.
“Pendangkalan ini akan kita tangani
dengan normalisasi sedimentasi. Materialnya nanti bisa dimanfaatkan, misalnya
untuk pembuatan tanggul dari tanah hasil sedimentasi,” tegasnya.
Di sisi lain, Ketua DPC HNSI Batang
Teguh Tarmujo, melihat Muscab lima tahunan ini sebagai momentum evaluasi
besar-besaran. Ia tidak menampik bahwa kondisi di lapangan, terutama terkait
tambat labuh, masih memerlukan pembenahan serius.
“Momentum Muscab ini kami harapkan dapat
memperkuat sinergi antara pemerintah, swasta, dan organisasi nelayan dalam
mengurai persoalan-persoalan yang selama ini terjadi, seperti sedimentasi, alur
pelayaran, hingga penataan tambat labuh yang masih semrawut,” ujar Teguh.
Muscab ini, diharapkan kemelut alur pelayaran akan segera terurai, membawa nelayan Batang menuju kesejahteraan yang lebih pasti. (eko/redaksi)











