- Bawa Flare Hingga Miras, Puluhan Suporter Persis Solo Diamankan Polisi
- Perkuat Ketahanan Pangan, Polda Jateng Panen Raya Jagung Serentak di Boyolali
- ODGJ Lempar Batu Pengguna Jalan di Pati Diamankan Polisi
- RSUD Margono Disiapkan Jadi Pusat Layanan Kesehatan Banyumas Raya
- Info Lur! Beasiswa Santri Pemprov Jateng Masih Dibuka
- Rumah Dinas untuk Rakyat, Taj Yasin Jamu Peserta Susbanpim Banser
- Curi Motor di Laweyan Solo, Pemuda Asal Serang Banten Diringkus Polisi
- Gubernur Luthfi Blusukan ke Pasar Wage, Siapkan Revitalisasi Eks Kebakaran
- Purwokerto Half Marathon 2026, Dongkrak Ekonomi dari Ajang Lomba Lari
- Meriah, 6.000 Pelari Ikuti Purwokerto Half Marathon 2026
Menata Ulang Jejak RA Kartini, Dari Surat Menjadi Taman Inspirasi

Keterangan Gambar : Subkoordinator Sejarah, Museum, dan Cagar Budaya Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Rembang, Retna Dyah Radityawati. Dok. Dinkominfo Rembang
Rembang, infojateng.id – Di sebuah sudut Museum RA Kartini, jejak masa lalu perlahan dihidupkan kembali. Bukan melalui benda-benda kuno semata, melainkan lewat hamparan taman yang kini mulai kembali hijau.
Taman itu bukan sekadar ruang terbuka, tetapi potongan
cerita dari kehidupan Kartini saat tinggal di Rembang lebih dari seabad lalu.
Kisahnya
berawal dari sebuah surat yang ditulis Kartini pada Desember 1903. Dalam surat
itu, ia mencurahkan kebahagiaannya setelah menjadi Raden Ayu. Ia bercerita
tentang rumahnya yang indah, lengkap dengan taman tempat ia memetik bunga
setiap hari.
Baca Lainnya :
- 130 Desa Rawan Bencana di Rembang Ikuti Penilaian Destana0
- Awal 2026 Pemkab Rembang Tangani 11 Ruas Jalan, Perbaikan Terus Berlanjut0
- Tingkatkan Literasi, DPK Blora Gelar Rakor Gerakan Sedekah Buku0
- Pembangunan Embung Diminta Jadi Solusi Atasi Banjir Cepu0
- UNICEF Tekankan Pentingnya RAD-PGBPSDL Dalam Perbaikan Gizi Masyarakat0
Namun waktu
telah mengubah banyak hal. Taman yang dulu digambarkan Kartini, lama
terbengkalai. Tanahnya kering, vegetasi nyaris tak tersisa.
Baru pada
2025, taman itu mulai mendapatkan sentuhan melalui program revitalisasi yang
digagas oleh Djarum Foundation, lembaga yang dikenal aktif dalam pelestarian
lingkungan.
Subkoordinator
Sejarah, Museum, dan Cagar Budaya Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Rembang,
Retna Dyah Radityawati, menjelaskan bahwa ide revitalisasi taman berangkat dari
cerita Kartini dalam suratnya kepada sahabatnya.
Dalam surat
itu, Kartini menggambarkan kebahagiaannya setelah menjadi Raden Ayu dan tinggal
di rumah dengan taman yang indah.
“Di bulan
Desember 1903, sewaktu sudah berada di Rembang, beliau menceritakan surat
tersebut ditujukan kepada sahabatnya. Di mana beliau bercerita bahwa beliau
sudah menjadi seorang Raden Ayu (RA). ‘Alangkah bahagianya saya dan pasti Ibu
juga akan pangling melihat saya sebagai RA. Saya di sini sangat bahagia, punya
rumah yang sangat indah dengan taman yang setiap hari saya memetik bunga untuk
menghiasi rumah,’” ujar Retna, Rabu (15/4/2026).
Dari kisah
tersebut, pihak museum kemudian berinisiatif merekonstruksi taman yang sempat
terbengkalai agar kembali menyerupai kondisi pada masa Kartini tinggal di
Rembang.
Konsep taman
tidak hanya menghadirkan keindahan visual, tetapi juga menghidupkan kembali
fungsi alami tanaman sebagai sumber aroma terapi.
“Taman itu
kan sudah lama terbengkalai dan tidak seperti yang diceritakan oleh RA Kartini.
Maka dari itu saya membuat rekonstruksi ulang dari ceritanya untuk
merevitalisasi atau menghidupkan kembali taman itu seperti pada saat beliau
berada di Rembang,” katanya.
Upaya
tersebut kemudian mendapat dukungan dari Djarum Foundation yang tertarik dengan
konsep pelestarian berbasis lingkungan.
Retna
menyebut, Museum RA Kartini menjadi pionir karena selama ini program
penghijauan dari Djarum Foundation lebih banyak menyasar kawasan candi.
“Museum RA
Kartini ini bisa disebut sebagai pionir, karena selama ini Djarum Foundation
lebih banyak menangani situs seperti candi, misalnya Prambanan dan beberapa
candi di wilayah Jawa Tengah. Sementara untuk museum, ini yang pertama,”
ungkapnya.
Selain
menghadirkan taman bunga seperti yang disebutkan dalam surat Kartini di
antaranya melati, mawar Perancis, dan lili Paris, revitalisasi juga dilengkapi
dengan konsep “apotek hidup”. Hal ini diadaptasi dari budaya rumah Jawa yang
umumnya memiliki tanaman obat di pekarangan.
“Memang
apotek hidup tidak disebutkan dalam suratnya, tetapi kami menarik benang merah
dari konsep rumah Jawa yang biasanya memiliki tanaman di pekarangan. Apalagi
resep khas Putri Jepara juga banyak menggunakan tanaman seperti kapulaga dan
jahe,” tambah Retna.
Meski
menghadapi tantangan kondisi tanah yang cenderung tandus, pihaknya optimistis
taman dapat tumbuh dengan baik berkat pendampingan intensif dari tim Djarum
Foundation. Bahkan, setelah proses penanaman selesai, masih ada masa
pemeliharaan hingga saat ini untuk memastikan tanaman dapat beradaptasi.
Di tengah upaya pelestarian sejarah, taman ini menghadirkan cara baru untuk mengenang Kartini bukan hanya sebagai tokoh emansipasi, tetapi juga sebagai perempuan yang menemukan kebahagiaan sederhana dari bunga yang dipetiknya sendiri, dari alam yang mengelilinginya. (eko/redaksi)











