- Bawa Flare Hingga Miras, Puluhan Suporter Persis Solo Diamankan Polisi
- Perkuat Ketahanan Pangan, Polda Jateng Panen Raya Jagung Serentak di Boyolali
- ODGJ Lempar Batu Pengguna Jalan di Pati Diamankan Polisi
- RSUD Margono Disiapkan Jadi Pusat Layanan Kesehatan Banyumas Raya
- Info Lur! Beasiswa Santri Pemprov Jateng Masih Dibuka
- Rumah Dinas untuk Rakyat, Taj Yasin Jamu Peserta Susbanpim Banser
- Curi Motor di Laweyan Solo, Pemuda Asal Serang Banten Diringkus Polisi
- Gubernur Luthfi Blusukan ke Pasar Wage, Siapkan Revitalisasi Eks Kebakaran
- Purwokerto Half Marathon 2026, Dongkrak Ekonomi dari Ajang Lomba Lari
- Meriah, 6.000 Pelari Ikuti Purwokerto Half Marathon 2026
Wilujengan Nagari dan Doa Lintas Agama Disemarakkan 7 Dalang Cilik
Jepara, infojateng.id - Ribuan
masyarakat memadati Alun-alun 1 Jepara dalam gelaran Wilujengan Nagari dan doa
bersama lintas agama, Jumat (10/4/2026) malam.
Kegiatan ini menjadi bagian dari rangkaian
peringatan Hari Ulang Tahun (HUT) ke-477 Kabupaten Jepara.
Dengan duduk bersila, masyarakat tampak khusyuk
memanjatkan doa sesuai keyakinan masing-masing dengan dipimpin pemuka agama.
Suasana terasa khidmat di bawah langit malam
yang teduh, ditemani semilir angin yang menambah ketenangan dalam prosesi
spiritual tersebut. Usai doa bersama, ratusan tumpeng langsung dibagikan kepada
masyarakat.
Tradisi makan bersama secara berkelompok ini berlangsung
penuh keakraban, seluruh tumpeng yang disediakan juga disantap dengan lahap.
Acara kemudian ditutup dengan penampilan tujuh
dalang cilik yang membawakan lakon Banjaran Bima, menghadirkan nuansa tradisi
dan budaya khas Jawa di tengah tasyakuran Hari Jadi ke-477 Jepara.
Bupati Jepara, Witiarso Utomo, menegaskan
Wilujengan Nagari merupakan wujud rasa syukur sekaligus ikhtiar batin
masyarakat Jepara.
“Wilujengan Nagari yang kita gelar ini merupakan
wujud rasa syukur, doa, dan ikhtiar batin kita bersama untuk memohon wilujeng,
keselamatan, ketenteraman, dan keberkahan bagi Jepara,” ujarnya.
Ia juga menambahkan doa lintas agama tersebut
dipanjatkan untuk seluruh elemen masyarakat, mulai dari petani, nelayan,
pekerja, pelaku usaha, generasi muda dan lainnya.
“Kita membawa harapan yang sama: mugi Jepara
tansah ayem, tentrem, gemah ripah loh jinawi,” lanjutnya.
Dalam kesempatan itu, Witiarso juga menyinggung
pentingnya pelestarian budaya melalui penampilan dalang cilik.
Menurutnya, lakon Bima yang ditampilkan sarat
dengan nilai keberanian, kejujuran, keteguhan hati, dan keberpihakan pada
kebenaran.
“Ini adalah tanda bahwa budaya luhur sedang kita
wariskan kepada anak-anak kita. Nilai-nilai itulah yang harus terus kita bawa
dalam membangun Jepara ke depan,” pungkasnya.
Salah seorang warga, Sayuti (60) mengatakan Hari
Jadi Jepara tahun ini tak hanya sekadar semarak dan menghibur namun juga kaya
filosofi dan makna.
Ia juga menilai Pemkab Jepara di bawah
kepemimpinan Witiarso Utomo menunjukkan langkah nyata nguri-nguri budaya yang
memang hidup dan berkembang di masyarakat.
"Spirit berpijak dari akar budaya untuk menatap masa depan sangat terasa sekali. Warga seumuran saya juga sangat terhibur ada kirab budaya nuansa tradisional, wayang, doa bersama dan lainnya," tandas warga Suwawal ini. (eko/redaksi)











