- Bawa Flare Hingga Miras, Puluhan Suporter Persis Solo Diamankan Polisi
- Perkuat Ketahanan Pangan, Polda Jateng Panen Raya Jagung Serentak di Boyolali
- ODGJ Lempar Batu Pengguna Jalan di Pati Diamankan Polisi
- RSUD Margono Disiapkan Jadi Pusat Layanan Kesehatan Banyumas Raya
- Info Lur! Beasiswa Santri Pemprov Jateng Masih Dibuka
- Rumah Dinas untuk Rakyat, Taj Yasin Jamu Peserta Susbanpim Banser
- Curi Motor di Laweyan Solo, Pemuda Asal Serang Banten Diringkus Polisi
- Gubernur Luthfi Blusukan ke Pasar Wage, Siapkan Revitalisasi Eks Kebakaran
- Purwokerto Half Marathon 2026, Dongkrak Ekonomi dari Ajang Lomba Lari
- Meriah, 6.000 Pelari Ikuti Purwokerto Half Marathon 2026
4 Juta Ternak di Batang Hanya Bergantung pada Satu Dokter, Ini Penyebabnya

Keterangan Gambar : Sektor peternakan di Kabupaten Batang saat ini hanya mengandalkan satu orang dokter hewan aktif karena krisis tenaga medis veteriner yang sangat timpang. Dok. Diskominfo Batang
Batang, infojateng.id – Untuk menjaga kesehatan puluhan ribu ekor sapi
dan jutaan unggas yang tersebar di 15 kecamatan, sektor peternakan di Kabupaten
Batang saat ini hanya mengandalkan satu orang dokter hewan aktif.
Bukan karena kurangnya pakan atau lahan, melainkan karena krisis
tenaga medis veteriner yang sangat timpang.
Sekretaris Dinas Pangan dan Pertanian (Dispaperta) Batang Syam
Manohara, tidak menutupi kondisi sulit ini. Baginya, jumlah tenaga medis yang
ada saat ini sudah berada di titik nadir.
Baca Lainnya :
- Bupati Apresiasi Program Balik Gratis Polres Karanganyar, Ratusan Perantau Kembali dengan Aman dan N0
- Aktivasi IKD di Wonogiri Tembus 40,03 Persen, Lampaui Target Nasional0
- Ini Cara Silaturahmi Bupati Karanganyar dan Wakilnya dengan Masyarakat, dari Daring Hingga Riding0
- Bupati Magelang Ajak Masyarakat Gotong Royong Bangun Daerah0
- Jepara Catatkan Kinerja Positif, Pendapatan Daerah 2025 Lampaui Target0
“Kalau untuk kebutuhan dokter hewan di Kabupaten Batang, saya
rasa sangat-sangat kurang,” kata Manohara saat ditemui di kantornya, Kamis (26/3/2026).
Padahal, sebelumnya Batang memiliki tiga dokter hewan. Namun,
dua di antaranya telah ditarik menjadi pegawai pusat. Kini, beban berat itu
jatuh sepenuhnya ke pundak drh. Ambar Puspitaningrum.
Data populasi ternak di Batang memang mencengangkan jika
dibandingkan dengan jumlah tenaga medisnya.
Adapun jumlah hewan ternak di Kabupaten yakni Sapi ± 17.000 ekor,
Kambing ± 35.000 ekor, Domba ± 25.000 ekor, dan Unggas mendekati 4.000.000 ekor.
“Meski dibantu oleh sekitar 23 hingga 26 paramedis di lapangan,
peran dokter hewan tetap tak tergantikan secara hukum dan medis. Diagnosis
penyakit hingga penentuan dosis obat wajib berada di bawah supervisi dokter,”
jelasnya.
Kondisi ini memaksa dokter hewan Ambar untuk "hadir"
di banyak tempat sekaligus dalam waktu bersamaan, meskipun hanya lewat layar
ponsel. Terutama saat wabah Penyakit Mulut dan Kuku (PMK) menyerang, teknologi
menjadi penyelamat di tengah keterbatasan fisik.
“Dokter Ambar harus memonitor 24 jam, bahkan lewat video call
untuk pengobatan dan vaksinasi. Karena paramedis tidak bisa langsung menentukan
dosis atau tindakan tanpa penyeliaan dokter,” terangnya.
Dokter hewan Ambar sendiri mengakui, bahwa ritme kerja ini
sangat menguras energi. Sebagai pejabat otoritas veteriner satu-satunya, ia
harus sigap menerima laporan dari seluruh penjuru Batang.
“Kalau ditanya kewalahan, ya memang kewalahan. Biasanya mereka
(paramedis) langsung telepon kalau ada kasus darurat,” ungkap Ambar.
Secara ideal, setiap kecamatan atau setidaknya setiap Pusat
Kesehatan Hewan (Puskeswan) dan Rumah Potong Hewan (RPH) memiliki satu dokter
hewan tetap. Namun, realita di Batang menunjukkan RPH pun belum memiliki dokter
hewan sendiri.
Dispaperta berharap, ada rekrutmen CPNS mendatang. Penambahan minimal tiga hingga empat dokter hewan. (eko/redaksi)











