4 Juta Ternak di Batang Hanya Bergantung pada Satu Dokter, Ini Penyebabnya

By Admin Utama
27 Mar 2026, 06:45:37 WIB Daerah
4 Juta Ternak di Batang Hanya Bergantung pada Satu Dokter, Ini Penyebabnya

Keterangan Gambar : Sektor peternakan di Kabupaten Batang saat ini hanya mengandalkan satu orang dokter hewan aktif karena krisis tenaga medis veteriner yang sangat timpang. Dok. Diskominfo Batang


Batang, infojateng.id – Untuk menjaga kesehatan puluhan ribu ekor sapi dan jutaan unggas yang tersebar di 15 kecamatan, sektor peternakan di Kabupaten Batang saat ini hanya mengandalkan satu orang dokter hewan aktif.

Bukan karena kurangnya pakan atau lahan, melainkan karena krisis tenaga medis veteriner yang sangat timpang.

Sekretaris Dinas Pangan dan Pertanian (Dispaperta) Batang Syam Manohara, tidak menutupi kondisi sulit ini. Baginya, jumlah tenaga medis yang ada saat ini sudah berada di titik nadir.

Baca Lainnya :

“Kalau untuk kebutuhan dokter hewan di Kabupaten Batang, saya rasa sangat-sangat kurang,” kata Manohara saat ditemui di kantornya, Kamis (26/3/2026).

Padahal, sebelumnya Batang memiliki tiga dokter hewan. Namun, dua di antaranya telah ditarik menjadi pegawai pusat. Kini, beban berat itu jatuh sepenuhnya ke pundak drh. Ambar Puspitaningrum.

Data populasi ternak di Batang memang mencengangkan jika dibandingkan dengan jumlah tenaga medisnya.

Adapun jumlah hewan ternak di Kabupaten yakni Sapi ± 17.000 ekor, Kambing ± 35.000 ekor, Domba ± 25.000 ekor, dan Unggas mendekati 4.000.000 ekor.

“Meski dibantu oleh sekitar 23 hingga 26 paramedis di lapangan, peran dokter hewan tetap tak tergantikan secara hukum dan medis. Diagnosis penyakit hingga penentuan dosis obat wajib berada di bawah supervisi dokter,” jelasnya.

Kondisi ini memaksa dokter hewan Ambar untuk "hadir" di banyak tempat sekaligus dalam waktu bersamaan, meskipun hanya lewat layar ponsel. Terutama saat wabah Penyakit Mulut dan Kuku (PMK) menyerang, teknologi menjadi penyelamat di tengah keterbatasan fisik.

“Dokter Ambar harus memonitor 24 jam, bahkan lewat video call untuk pengobatan dan vaksinasi. Karena paramedis tidak bisa langsung menentukan dosis atau tindakan tanpa penyeliaan dokter,” terangnya.

Dokter hewan Ambar sendiri mengakui, bahwa ritme kerja ini sangat menguras energi. Sebagai pejabat otoritas veteriner satu-satunya, ia harus sigap menerima laporan dari seluruh penjuru Batang.

“Kalau ditanya kewalahan, ya memang kewalahan. Biasanya mereka (paramedis) langsung telepon kalau ada kasus darurat,” ungkap Ambar.

Secara ideal, setiap kecamatan atau setidaknya setiap Pusat Kesehatan Hewan (Puskeswan) dan Rumah Potong Hewan (RPH) memiliki satu dokter hewan tetap. Namun, realita di Batang menunjukkan RPH pun belum memiliki dokter hewan sendiri.

Dispaperta berharap, ada rekrutmen CPNS mendatang. Penambahan minimal tiga hingga empat dokter hewan. (eko/redaksi)




Write a Facebook Comment

Tuliskan Komentar anda dari account Facebook

View all comments

Write a comment