- Bawa Flare Hingga Miras, Puluhan Suporter Persis Solo Diamankan Polisi
- Perkuat Ketahanan Pangan, Polda Jateng Panen Raya Jagung Serentak di Boyolali
- ODGJ Lempar Batu Pengguna Jalan di Pati Diamankan Polisi
- RSUD Margono Disiapkan Jadi Pusat Layanan Kesehatan Banyumas Raya
- Info Lur! Beasiswa Santri Pemprov Jateng Masih Dibuka
- Rumah Dinas untuk Rakyat, Taj Yasin Jamu Peserta Susbanpim Banser
- Curi Motor di Laweyan Solo, Pemuda Asal Serang Banten Diringkus Polisi
- Gubernur Luthfi Blusukan ke Pasar Wage, Siapkan Revitalisasi Eks Kebakaran
- Purwokerto Half Marathon 2026, Dongkrak Ekonomi dari Ajang Lomba Lari
- Meriah, 6.000 Pelari Ikuti Purwokerto Half Marathon 2026
Curhat Driver Ojol ke Ahmad Luthfi: Kerja Pagi hingga Malam Sembari Asuh Anak
Keterangan Gambar: Gubernur Jawa Tengah, Ahmad Luthfi, sedang duduk lesehan bersama driver ojol di tangga beranda kantor Gubernuran, Rabu (20/5/2026).
Semarang, infojateng.id - Di tengah unjuk rasa driver ojek online (ojol) di depan Kantor Gubernur Jawa Tengah pada Rabu (20/5/2026), ada kisah yang diam-diam menyentuh perhatian. Seorang ibu datang menggandeng anaknya, lalu berdiri di antara para pengemudi yang memperjuangkan nasib mereka.
Ia adalah Ratna Yuniarti (33), driver ojol asal Kota
Semarang yang sudah hampir sembilan tahun bekerja di jalanan. Ratna datang
membawa anak ketiganya yang baru berusia 2 tahun 7 bulan.
Ia memberanikan diri menghampiri ketika Gubernur Jawa
Tengah, Ahmad Luthfi, sedang duduk lesehan di tangga beranda kantor Gubernuran.
Melihat ibu dan anak tersebut, Ahmad Luthfi sontak
memanggil seraya memberi tanda lambaian tangan agar mendekat dan duduk di
sebelahnya. Dengan gaya santai Ahmad Luthfi menyapa dan mengajak kenalan.
Di hadapan Gubernur, Ratna menceritakan kesehariannya
yang penuh perjuangan: bekerja sembari mengasuh anak.
Sangat alami dan berjalan apa adanya. Obrolan keduanya
juga santai tanpa sekat. Bocah kecil yang digandeng terus berada di samping
sang ibu ketika obrolan hangat berlangsung di halaman kantor gubernur.
Bahkan tanpa canggung, Ahmad Luthfi mendekap bocah itu
dan didudukkan di pangkuannya.
“Rumah di Asrama TNI AD Mrican, tapi sekarang ngekos
di Lamper. Sudah lama jadi driver ojol, sejak tahun 2017 sampai sekarang. Suami
saya jadi TKI di Malaysia, sejak Desember 2025,” ujar Ratna.
Sejak sang suami bekerja di Malaysia, Ratna menjadi
tulang punggung keluarga di Semarang. Setiap hari ia mulai bekerja sejak pukul
05.30 hingga sekitar pukul 19.00. Selama itu pula, anak bungsunya selalu ikut
bersamanya menyusuri jalanan kota.
Sementara dua anaknya yang lain masih duduk di bangku
sekolah dasar, masing-masing kelas 1 dan kelas 3 SD.
Bagi Ratna, bekerja sambil mengasuh anak bukan pilihan
yang nyaman. Namun keadaan memaksanya bertahan. Ia mengaku tidak sanggup
membayar pengasuh anak, sementara meninggalkan anak di rumah juga bukan pilihan
yang mudah.
“Kalau ngojek online sambil momong anak dari pagi
sampai sore. Kalau mau ambil orang buat momong nggak sanggup bayarnya. Was-was
juga setiap ajak anak, tapi mau gimana lagi. Kalau nggak kerja nggak bisa
makan,” tuturnya lirih.
Karena itu, Ratna menyambut baik wacana penyediaan
fasilitas day care bagi driver ojol yang sebelumnya disampaikan Pemerintah
Provinsi Jawa Tengah. Menurutnya, banyak driver perempuan lain yang menghadapi
persoalan serupa.
“Setuju saja kalau ada day care, soalnya ada teman
ojol lain yang juga kerja sambil momong anak,” katanya.
Namun persoalan para driver ojol, menurut Ratna, tidak
berhenti pada urusan pengasuhan anak. Selama hampir satu dekade bekerja, ia
merasakan semakin beratnya tekanan ekonomi akibat tarif rendah dan tingginya
potongan aplikasi.
Dalam sehari, Ratna bisa menyelesaikan sekitar 10
orderan dengan nilai pendapatan kotor Rp 70 ribu hingga Rp 80 ribu. Setelah
dipotong aplikasi dan kebutuhan operasional, uang yang benar-benar dibawa
pulang hanya sekitar Rp 40 ribu sampai Rp 50 ribu.
Luthfi mengatakan, aspirasi para driver ojol sudah ia
terima dan akan terus dikawal oleh pemerintah provinsi. Sehari sebelum aksi
berlangsung, perwakilan driver ojol juga telah bertemu langsung dengannya untuk
menyampaikan berbagai tuntutan.
Menurut Luthfi, persoalan utama yang dihadapi driver
ojol bukan hanya soal tarif, tetapi juga belum adanya payung hukum yang jelas
mengenai transportasi online.
“Sudah saya sampaikan, akan kita kawal. Kita harus
melakukan mediasi dengan mitra karena sifatnya kemitraan, sehingga ada
komunikasi dari kedua belah pihak antara mitra dan perusahaan,” kata Luthfi.
Pemerintah Provinsi (Pemprov) Jawa Tengah, lanjut dia,
juga telah mengirim surat kepada Kementerian Perhubungan terkait tuntutan para
driver ojol. Bahkan ke depan, pihaknya berencana mengajak perwakilan driver
untuk bertemu langsung dengan Menteri Perhubungan di Jakarta.
“Kita sudah wadahi dan akan kawal terus. Persoalan ini
tidak hanya di Jawa Tengah, tapi semua provinsi juga sama. Kita akan telusuri
sumbatannya ada di mana,” jelasnya.
Terkait tuntutan revisi SK Gubernur Jawa Tengah
mengenai transportasi online, Ahmad Luthfi menyebut telah menginstruksikan
peninjauan ulang agar menyesuaikan aspirasi driver.
Meski demikian, ia menilai solusi jangka panjang tetap
membutuhkan regulasi nasional yang lebih jelas.
“Driver ojol itu sifatnya mitra, bukan pegawai. Jadi
harus didudukkan bersama dan kami siap memfasilitasi kedua belah pihak,”
ujarnya. (eko/redaksi)










