- Bawa Flare Hingga Miras, Puluhan Suporter Persis Solo Diamankan Polisi
- Perkuat Ketahanan Pangan, Polda Jateng Panen Raya Jagung Serentak di Boyolali
- ODGJ Lempar Batu Pengguna Jalan di Pati Diamankan Polisi
- RSUD Margono Disiapkan Jadi Pusat Layanan Kesehatan Banyumas Raya
- Info Lur! Beasiswa Santri Pemprov Jateng Masih Dibuka
- Rumah Dinas untuk Rakyat, Taj Yasin Jamu Peserta Susbanpim Banser
- Curi Motor di Laweyan Solo, Pemuda Asal Serang Banten Diringkus Polisi
- Gubernur Luthfi Blusukan ke Pasar Wage, Siapkan Revitalisasi Eks Kebakaran
- Purwokerto Half Marathon 2026, Dongkrak Ekonomi dari Ajang Lomba Lari
- Meriah, 6.000 Pelari Ikuti Purwokerto Half Marathon 2026
Peran Media Dongkrak Indeks Demokrasi di Jateng Diapresiasi
Keterangan Gambar: Wakil Gubernur Jawa Tengah, Taj Yasin Maimoen saat memberikan keynote speech dalam acara Jateng Media Summit 2026 di Khas Hotel Semarang, Kamis (21/5/2026).
Semarang, infojateng.id - Wakil Gubernur Jawa Tengah, Taj Yasin Maimoen menilai, media massa memberikan turut berkontribusi terhadap meningkatnya Indeks Demokrasi Indonesia (IDI) di Jawa Tengah pada 2025.
Sebagai informasi, nilai IDI di Jawa Tengah pada 2025
mencapai 86,72 atau mengalami peningakatan 0,88 dibandingkan tahun sebelumnya.
Capaian itu menempatkan posisi Jawa Tengah berada peringkat ketiga secara
nasional.
Karenanya, Taj Yasin memberikan apresiasi khusus
kepada para media di wilayahnya,
sehingga IDI di Jateng mengalami
peningkatan.
“Penghargaan itu sebenarnya bukan untuk Pemprov saja,
tetapi untuk kita semua, khususnya para media,” kata Taj Yasin saat memberikan
keynote speech dalam acara Jateng Media
Summit 2026 di Khas Hotel Semarang, Kamis (21/5/2026).
Ia menyebut media memiliki peran besar dalam menjaga
keterbukaan informasi dan memperkuat partisipasi publik. Hal ini menjadi bagian penting dalam penilaian indeks
demokrasi.
“Indeks demokrasi itu lahir dari keterlibatan
masyarakat maupun keterlibatan media. Maka capaian ini perlu kita genjot
bersama-sama,” ujarnya.
Dalam forum yang diikuti 100 media lokal dan 30
homeless media tersebut, Taj Yasin secara khusus menyoroti perubahan besar
ekosistem media di era digital.
Menurut dia, media massa kini tidak hanya bersaing
sesama perusahaan pers, tetapi juga menghadapi derasnya arus media sosial dan
“homeless media” yang tumbuh cepat di ruang digital.
“Media mainstream
(arus utama) sekarang tantangannya adalah media sosial dan homeless
media. Dan ternyata homeless media ini minatnya luar biasa,” katanya.
Walakin, ia menilai media arus utama tetap memiliki
keunggulan di antaranya verifikasi data,
kode etik jurnalistik, dan tanggung jawab terhadap informasi yang
dipublikasikan.
Di sisi lain, Taj Yasin mengakui homeless media
memiliki kekuatan dalam menjangkau audiens yang disasar. Apalagi panyajian
kontennya lebih cepat dan visualnya yang lebih sesuai dengan pola konsumsi
informasi generasi saat ini.
Karena itu, ia tidak ingin media mainstream dan
homeless media saling berhadapan. Sebaliknya, ia mendorong keduanya
berkolaborasi untuk membangun ruang informasi yang sehat sekaligus mendukung
demokrasi.
“Ada pertemuan antara media mainstream dengan homeless
media ini harapannya ada titik temu. Karena tujuan kita sama, mencerdaskan
masyarakat dan mengawal negara ini,” katanya.
Menurut Taj Yasin, kolaborasi tersebut penting agar
ruang digital tidak dipenuhi informasi yang menyesatkan atau hoaks. Ia khawatir
jika homeless media berkembang tanpa pendampingan media yang memiliki standar
jurnalistik, maka masyarakat akan kesulitan membedakan informasi valid dan
tidak valid.
Ia juga menilai media berperan penting membantu
pemerintah membaca persoalan masyarakat secara cepat. Salah satu contohnya
adalah kasus pemutusan kontrak kerja di sebuah perusahaan di Kabupaten Sragen
yang sempat ramai diberitakan media.
Menurut dia, setelah kasus itu menjadi perhatian publik,
pemerintah dapat segera turun tangan sehingga sebagian pekerja terdampak
berhasil dialihkan ke perusahaan lain.
“Inilah pentingnya media. Banyak hal bisa cepat kita
tangani karena adanya pemberitaan,” katanya.
Penyelenggara Jateng Media Summit 2026, Suwarjono,
mengatakan forum tersebut memang dirancang untuk mempertemukan media lokal,
media digital, hingga homeless media guna membahas masa depan industri media di
Jawa Tengah.
Selain diskusi, kegiatan juga diisi workshop
pengelolaan website pemerintah dan pelatihan pemanfaatan kecerdasan buatan atau
AI untuk media lokal.
“Kita ingin media di Jawa Tengah terus hidup dan mampu bertransformasi. Kalau medianya sehat secara bisnis, maka kontennya juga akan berkualitas,” kata Suwarjono. (eko/redaksi)










