- Bawa Flare Hingga Miras, Puluhan Suporter Persis Solo Diamankan Polisi
- Perkuat Ketahanan Pangan, Polda Jateng Panen Raya Jagung Serentak di Boyolali
- ODGJ Lempar Batu Pengguna Jalan di Pati Diamankan Polisi
- RSUD Margono Disiapkan Jadi Pusat Layanan Kesehatan Banyumas Raya
- Info Lur! Beasiswa Santri Pemprov Jateng Masih Dibuka
- Rumah Dinas untuk Rakyat, Taj Yasin Jamu Peserta Susbanpim Banser
- Curi Motor di Laweyan Solo, Pemuda Asal Serang Banten Diringkus Polisi
- Gubernur Luthfi Blusukan ke Pasar Wage, Siapkan Revitalisasi Eks Kebakaran
- Purwokerto Half Marathon 2026, Dongkrak Ekonomi dari Ajang Lomba Lari
- Meriah, 6.000 Pelari Ikuti Purwokerto Half Marathon 2026
Jateng Siap Jadi Pelopor, Kurikulum Perkoperasian Masuk Sekolah Tahun Ajaran 2026/2027
Keterangan Gambar: Pemerintah Provinsi Jawa Tengah menargetkan implementasi kurikulum perkoperasian untuk jenjang sekolah dasar hingga menengah mulai diberlakukan pada tahun ajaran 2026/2027.
Semarang, infojateng.id - Pemerintah Provinsi (Pemprov) Jawa Tengah menargetkan implementasi kurikulum perkoperasian untuk jenjang sekolah dasar hingga menengah mulai diberlakukan pada tahun ajaran 2026/2027.
Langkah ini digadang menjadi upaya strategis membangun
kembali semangat ekonomi kerakyatan sejak dini, sekaligus mendukung penguatan
program Koperasi Desa/Kelurahan Merah Putih.
Gubernur Jawa Tengah, Ahmad Luthfi, mengatakan, Jawa
Tengah memiliki sejarah panjang sebagai basis gerakan koperasi. Karena itu,
pendidikan perkoperasian dinilai penting ditanamkan sejak bangku sekolah agar
generasi muda memahami konsep gotong royong dan ekonomi berbasis kebersamaan.
“Dulu kita punya KUD, tetapi banyak yang tidak
berkembang karena tidak terkoordinasi dan tidak menjadi pelajaran bagi
anak-anak di sekolah. Sekarang provinsi sudah menyiapkan kurikulum dan saya
ingin segera dilaksanakan mulai pendidikan dasar,” kata Ahmad Luthfi saat
menerima laporan Kepala Dinas Koperasi dan UKM Jawa Tengah di kantornya, Rabu
(20/5/2026).
Menurutnya, kebijakan tersebut selaras dengan program
Presiden Prabowo Subianto terkait pembentukan Koperasi Desa/Kelurahan Merah
Putih. Pemahaman koperasi sejak usia sekolah diharapkan mampu memperkuat
fondasi ekonomi kerakyatan dan mencegah kegagalan model koperasi seperti yang
pernah terjadi pada Koperasi Unit Desa (KUD) di masa lalu.
Kepala Dinas Koperasi dan UKM Jawa Tengah, Eddy
Sulistiyo Bramianto, menjelaskan, rancangan insersi kurikulum perkoperasian
telah disampaikan kepada Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah
(Kemendikdasmen).
Dalam waktu dekat, pihaknya juga akan melakukan
pembahasan lanjutan bersama Badan Kebijakan Pendidikan Dasar dan Menengah untuk
mematangkan implementasinya.
“Kami targetkan tahun ajaran baru nanti sudah bisa
mulai diterapkan. Awal Juni juga direncanakan akan diluncurkan oleh Gubernur,”
ujar Bramianto.
Ia menjelaskan, materi perkoperasian akan disusun
secara bertahap sesuai jenjang pendidikan. Pada tingkat sekolah dasar, siswa
akan dikenalkan pada konsep dasar koperasi dan semangat gotong royong.
Selanjutnya di tingkat SMP, materi diperluas pada
struktur organisasi koperasi beserta tugas dan fungsinya. Sementara di jenjang
SMA, siswa mulai dikenalkan pada kewirausahaan berbasis koperasi.
“Tujuannya agar anak-anak memahami sistem ekonomi
kerakyatan, belajar bekerja sama, bergotong royong, dan pada akhirnya
menciptakan kesejahteraan bersama,” katanya.
Pemantapan kurikulum tersebut sebelumnya juga dibahas
melalui Focus Group Discussion (FGD) Finalisasi Insersi Kurikulum Pendidikan
Perkoperasian yang digelar di Balai Pelatihan Koperasi dan UKM Jawa Tengah,
Kota Semarang, pada 5-7 Mei 2026.
FGD melibatkan berbagai unsur, mulai dari Kanwil
Kemenag Jateng, Dinas Pendidikan Jateng, Dinas Pendidikan Kota Semarang, tim
ahli Dinas Koperasi dan UKM Jateng, hingga praktisi gerakan koperasi.
Penyusunan rancangan kurikulum itu sendiri telah dimulai sejak Oktober 2025.
“Selama enam bulan kami menyusun materi bersama para
guru dan praktisi koperasi. Responsnya sangat positif,” kata Bramianto. (eko/redaksi)











