- Bawa Flare Hingga Miras, Puluhan Suporter Persis Solo Diamankan Polisi
- Perkuat Ketahanan Pangan, Polda Jateng Panen Raya Jagung Serentak di Boyolali
- ODGJ Lempar Batu Pengguna Jalan di Pati Diamankan Polisi
- RSUD Margono Disiapkan Jadi Pusat Layanan Kesehatan Banyumas Raya
- Info Lur! Beasiswa Santri Pemprov Jateng Masih Dibuka
- Rumah Dinas untuk Rakyat, Taj Yasin Jamu Peserta Susbanpim Banser
- Curi Motor di Laweyan Solo, Pemuda Asal Serang Banten Diringkus Polisi
- Gubernur Luthfi Blusukan ke Pasar Wage, Siapkan Revitalisasi Eks Kebakaran
- Purwokerto Half Marathon 2026, Dongkrak Ekonomi dari Ajang Lomba Lari
- Meriah, 6.000 Pelari Ikuti Purwokerto Half Marathon 2026
Jateng Terima 37 Ribu Usulan Pembangunan, Infrastruktur Desa Dominasi RKPD 2027

Keterangan Gambar : Sekretaris Daerah Jawa Tengah, Sumarno dalam forum Musrenbang di Gedung Gradika Bhakti Praja, Jl. Pahlawan Kota Semarang, Selasa (28/4/2026).
Semarang, infojateng.id – Pemerintah Provinsi (Pemprov) Jawa Tengah mulai mengerucutkan arah pembangunan 2027 dengan menyaring puluhan ribu usulan masyarakat dan pemerintah daerah.
Dalam Musyawarah Perencanaan Pembangunan (Musrenbang)
Rencana Kerja Pemerintah Daerah (RKPD) 2027, sebanyak 37.054 usulan dengan
nilai mencapai Rp37,8 triliun masuk ke dalam sistem perencanaan. Ini menandai
tingginya ekspektasi publik terhadap belanja pembangunan daerah.
Sekretaris Daerah (Sekda) Jawa Tengah, Sumarno,
menyebutkan, gelombang usulan tersebut didominasi kebutuhan dasar di tingkat
desa hingga kabupaten/kota, terutama sektor infrastruktur.
Baca Lainnya :
- Presiden Prabowo Puji Pengelolaan Sampah di Banyumas0
- Jateng Targetkan Seribu Desa Wisata dan Konten Kreator di 20270
- Kantor Gubernur Jateng Digeruduk Massa, Ada Apa?0
- Bea Cukai Kudus dan Diskominfo Jepara Ajak Warga Kedung Perangi Rokok Ilegal0
- Pemkab Cilacap Percepat Digitalisasi dan Penertiban Pajak untuk Genjot PAD 20260
“Usulan terbanyak berasal dari bantuan keuangan
pemerintah desa untuk infrastruktur, mencapai lebih dari 23 ribu usulan,” ujar
Sumarno, dalam forum Musrenbang di Gedung Gradika Bhakti Praja, Jl. Pahlawan Kota
Semarang, Selasa (28/4/2026).
Selain infrastruktur desa, permintaan pembiayaan juga
mengalir pada hibah, sarana-prasarana kabupaten/kota, hingga sektor pendidikan.
Dari sisi anggaran, tekanan terbesar juga berada pada infrastruktur desa dengan
nilai usulan mencapai Rp13,1 triliun, disusul sarpras kabupaten/kota sebesar
Rp12,5 triliun.
Lonjakan usulan tersebut menjadi tantangan tersendiri
bagi pemerintah provinsi untuk menyelaraskan kebutuhan lokal dengan agenda
pembangunan jangka menengah. Musrenbang ini tidak sekadar forum seremonial,
melainkan titik krusial untuk menyaring prioritas yang realistis dan berdampak
luas.
Mengacu pada kerangka RPJMD 2025–2029, Pemprov Jateng
menetapkan delapan isu strategis. Mulai dari penguatan ekonomi berdaya saing,
penurunan kemiskinan, ketahanan pangan, hingga tata kelola pemerintahan yang
dinamis. Isu lingkungan dan kebencanaan juga menjadi perhatian, seiring
meningkatnya tekanan terhadap sumber daya alam.
Dari sana, arah besar pembangunan difokuskan pada
transformasi ekonomi berbasis lingkungan dan transformasi sosial, dengan tiga
indikator utama. Yakni penurunan kemiskinan, peningkatan Produk Domestik
Regional Bruto (PDRB) per kapita, serta reformasi birokrasi.
Yang menarik, tema pembangunan 2027 secara eksplisit
menempatkan pariwisata berkelanjutan dan ekonomi syariah sebagai motor
pertumbuhan baru. Strategi ini menunjukkan upaya diversifikasi ekonomi Jawa
Tengah, tidak lagi bertumpu pada sektor konvensional semata.
Pendekatan ini juga mengisyaratkan pergeseran arah
kebijakan dari sekadar pembangunan fisik menuju penguatan ekosistem ekonomi
lokal yang lebih inklusif dan berkelanjutan, termasuk berbasis desa.
Namun demikian, dokumen RKPD 2027 masih bersifat dinamis.
Pemerintah membuka ruang koreksi dan penyempurnaan melalui partisipasi publik
dan pemangku kepentingan.
“Rancangan ini belum final. Masukan dari berbagai
pihak tetap kami butuhkan agar program yang disusun benar-benar menjawab
kebutuhan masyarakat,” kata Sumarno.
Menanggapi besarnya aspirasi tersebut, Wakil Gubernur
Jawa Tengah, Taj Yasin Maimoen, menegaskan forum Musrenbang harus benar-benar
menghasilkan dampak nyata bagi masyarakat, bukan sekadar agenda rutin
perencanaan.
“Semoga Musrenbang Provinsi Jawa Tengah tahun 2026 ini
benar-benar berdampak kepada masyarakat. Forum ini sangat strategis untuk
menyelaraskan aspirasi, baik yang disampaikan melalui DPRD maupun langsung dari
masyarakat, termasuk para kepala desa yang mengikuti secara daring,” ujarnya.
Ia menekankan, seluruh masukan dari berbagai sektor
akan menjadi pijakan dalam menentukan arah pembangunan 2027. Namun demikian,
pemerintah provinsi sudah menetapkan fokus utama, yakni penguatan sektor
pariwisata dan ekonomi syariah.
Menurutnya, pendekatan pariwisata ke depan tidak lagi
sempit pada destinasi wisata, tetapi diperluas sebagai bagian dari ekosistem
industri.
“Pariwisata itu adalah industri. Ke depan, kawasan
industri juga bisa menjadi bagian dari pengembangan pariwisata untuk menunjang
pertumbuhan ekonomi Jawa Tengah,” kata Taj Yasin.
Dari sisi target makro, Pemprov Jateng juga mendorong
penguatan kapasitas fiskal daerah hingga 66,80 persen, dengan harapan mampu
mengakselerasi pertumbuhan ekonomi di kisaran 5,3 hingga 7 persen pada 2027.
Namun, target tersebut sangat bergantung pada
konsistensi sinergi lintas daerah.
“Ini bisa terwujud jika kita berkolaborasi, khususnya
dengan 35 kabupaten/kota. Karena itu, kami berharap seluruh usulan yang masuk
bisa diselaraskan dengan program prioritas provinsi, terutama di sektor
pariwisata dan ekonomi syariah,” tegasnya (eko/redaksi)











