- Bawa Flare Hingga Miras, Puluhan Suporter Persis Solo Diamankan Polisi
- Perkuat Ketahanan Pangan, Polda Jateng Panen Raya Jagung Serentak di Boyolali
- ODGJ Lempar Batu Pengguna Jalan di Pati Diamankan Polisi
- RSUD Margono Disiapkan Jadi Pusat Layanan Kesehatan Banyumas Raya
- Info Lur! Beasiswa Santri Pemprov Jateng Masih Dibuka
- Rumah Dinas untuk Rakyat, Taj Yasin Jamu Peserta Susbanpim Banser
- Curi Motor di Laweyan Solo, Pemuda Asal Serang Banten Diringkus Polisi
- Gubernur Luthfi Blusukan ke Pasar Wage, Siapkan Revitalisasi Eks Kebakaran
- Purwokerto Half Marathon 2026, Dongkrak Ekonomi dari Ajang Lomba Lari
- Meriah, 6.000 Pelari Ikuti Purwokerto Half Marathon 2026
Omzet Pedagang Melonjak - Wisatawan Menanjak Tren Positif Ekonomi Jateng saat Lebaran
Salatiga, infojateng.id - Arus mudik dan balik Lebaran 2026 di Jawa Tengah tak sekadar menghadirkan cerita rindu di kampung halaman.
Di sepanjang
jalur strategis Jawa Tengah, denyut ekonomi justru berdetak kian kencang. Dari
warung makan sederhana hingga destinasi wisata unggulan, semuanya ikut
“kecipratan berkah” lonjakan mobilitas jutaan pemudik.
Jawa Tengah,
yang kerap disebut sebagai titik temu sekaligus titik lelah perjalanan lintas
Jawa, kembali membuktikan diri sebagai ruang persinggahan yang produktif, bukan
hanya bagi para pelintas, tetapi juga bagi para pelaku usaha lokal.
Bagi Sapta
Aprilia (40), pengelola Rumah Makan Ayam Goreng Bu Toha cabang Tuntang,
Kabupaten Semarang, momentum Lebaran tahun ini menjadi gambaran nyata bagaimana
perputaran uang meningkat drastis.
Berlokasi di
jalur strategis Exit Tol Salatiga (Jalan Tingkir Raya), rumah makannya nyaris
tak pernah sepi sejak arus balik dimulai.
“Peningkatannya
bisa dibilang drastis, ada sekitar 100
persen,” ungkap Sapta saat ditemui, Kamis (26/3/2026).
Deretan
kendaraan berpelat nomor luar daerah yang memenuhi area parkir menjadi penanda
kuat tingginya mobilitas pemudik.
Dengan menu
sederhana seperti ayam goreng, bebek, hingga tahu tempe, tempat makan ini tetap
menjadi pilihan favorit.
Untuk
menjaga kualitas layanan di tengah lonjakan pengunjung, Sapta bahkan harus
menambah tenaga kerja harian.
“Tambah dua
pegawai harian, yang tetap ada tiga,” ujarnya.
Fenomena
serupa juga dirasakan Harnanto, pedagang mie ayam dan bakso di Jalan Raya
Semarang–Solo KM 30, tepatnya di Tuntang, Kabupaten Semarang.
Sejak H+1
Lebaran, intensitas pembeli meningkat tajam hingga membuatnya kewalahan
melayani pesanan.
“Hari biasa
habis 5 sampai 7 kilogram mie, musim Lebaran bisa sampai 25 kilogram,” katanya.
"Kalau
bakso saya tidak hitung detail karena stoknya banyak, habis ambil lagi, habis
ambil lagi," imbuhnya.
Sementara
itu, sektor kafe dan restoran menunjukkan pola yang sedikit berbeda. Aziz,
Manager Reinz Cafe dan Resto di Demak, menyebut lonjakan pengunjung lebih
banyak didorong oleh reservasi kelompok.
“Kalau kami
sistemnya sudah reservasi dari jauh hari untuk acara halalbihalal atau reuni
keluarga. Alhamdulillah, jadwal kami penuh sampai minggu depan,” ujarnya.
Tak hanya
sektor kuliner, geliat ekonomi juga tampak di sektor pariwisata. Selama libur
panjang Lebaran 2026, sejumlah objek wisata di Jawa Tengah dipadati pengunjung.
Dinas
Kebudayaan, Pariwisata, dan Ekonomi Kreatif (Disbudparekraf) Provinsi Jawa
Tengah mencatat, kunjungan wisatawan mengalami peningkatan dibandingkan tahun
sebelumnya.
Kepala
Disbudparekraf Jateng, Hanung Triyono, menyebutkan bahwa total kunjungan
wisatawan pada periode H-7 (13 Maret 2026) hingga H+4 Lebaran (25 Maret 2026)
mencapai 687.470 kunjungan.
“Angka
tersebut naik 5,25 persen dibandingkan periode yang sama pada 2025 sebanyak
653.178 kunjungan,” kata Hanung.
Ia
menambahkan, peningkatan ini terlihat dari sejumlah destinasi unggulan yang
menjadi titik pantauan, di antaranya Candi Borobudur, Owabong, Baturraden,
Guci, Pantai Menganti, Kota Lama Semarang, Masjid Agung Demak, Makam Sunan
Kalijaga, serta Candi Prambanan.
Sebelumnya,
Gubernur Jawa Tengah, Ahmad Luthfi, jauh-jauh hari telah menekankan pentingnya
menangkap peluang dari pergerakan jutaan manusia selama arus mudik dan balik.
“Jawa Tengah
itu sentralnya Jawa. Kami siapkan infrastruktur hingga UMKM di tempat strategis
agar kebutuhan dasar pemudik terlayani. Silakan belanjakan uang saku di Jawa
Tengah,” jelasnya.
Luthfi
berharap adanya pergerakan masyarakat yang mudik tersebut dapat meningkatkan
perputaran uang dan perekonomian di wilayahnya.
Menurutnya,
momentum mudik harus dapat ditangkap sebagai peluang untuk menumbuhkan
perekonomian di wilayah masing-masing. (eko/redaksi)











