- Bawa Flare Hingga Miras, Puluhan Suporter Persis Solo Diamankan Polisi
- Perkuat Ketahanan Pangan, Polda Jateng Panen Raya Jagung Serentak di Boyolali
- ODGJ Lempar Batu Pengguna Jalan di Pati Diamankan Polisi
- RSUD Margono Disiapkan Jadi Pusat Layanan Kesehatan Banyumas Raya
- Info Lur! Beasiswa Santri Pemprov Jateng Masih Dibuka
- Rumah Dinas untuk Rakyat, Taj Yasin Jamu Peserta Susbanpim Banser
- Curi Motor di Laweyan Solo, Pemuda Asal Serang Banten Diringkus Polisi
- Gubernur Luthfi Blusukan ke Pasar Wage, Siapkan Revitalisasi Eks Kebakaran
- Purwokerto Half Marathon 2026, Dongkrak Ekonomi dari Ajang Lomba Lari
- Meriah, 6.000 Pelari Ikuti Purwokerto Half Marathon 2026
Panen Padi Biosalin di Jepara, Produktivitas Melonjak hingga 9 Ton per Hektare
Keterangan Gambar: Panen padi biosalin yang digelar di Desa Bandungharjo, Kecamatan Donorojo, Kabupaten Jepara, Jumat (24/4/2026).
Jepara, infojateng.id – Panen padi biosalin digelar di Desa Bandungharjo, Kecamatan Donorojo, Kabupaten Jepara, Jumat (24/4/2026). Kegiatan ini menjadi bagian dari upaya penguatan ketahanan pangan berbasis inovasi teknologi pertanian, khususnya di lahan dengan tingkat salinitas tinggi.
Kepala Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN), Arif
Satria, menuturkan bahwa panen biosalin varietas 1 dan 2 merupakan hasil
kolaborasi antara Kementerian Pertanian dan BRIN yang kini mulai
didiseminasikan di wilayah Jepara.
“Varietas ini mampu menghasilkan hingga 9 ton per
hektare dan memiliki ketahanan tinggi terhadap lahan asin serta salinitas
tinggi di lahan marginal,” ujar Arif.
Ia juga menjelaskan bahwa masa tanam padi biosalin
relatif singkat, yakni sekitar 85 hingga 104 hari, sehingga dinilai lebih
efisien dibandingkan varietas lain.
Menurutnya, riset terhadap varietas ini akan terus
dikembangkan guna mendongkrak produksi beras nasional.
“Ke depan, masih banyak produk pangan lain, termasuk
pangan olahan, yang bisa kita kembangkan dari hasil inovasi ini,” tambahnya.
Sementara itu, Deputi Bidang Koordinasi Usaha Pangan
dan Pertanian Kemenko Pangan RI, Widiastuti, menilai padi biosalin sebagai
inovasi strategis dalam mendukung ketahanan pangan nasional.
“Inovasi ini sangat baik karena mampu meningkatkan
produktivitas melalui varietas unggulan dan selaras dengan program nasional
ketahanan pangan,” ungkapnya.
Di sisi lain, Bupati Jepara Witiarso Utomo
menyampaikan, bahwa pengembangan padi biosalin merupakan bagian dari upaya
membangun kawasan ketahanan pangan di Kabupaten Jepara.
“Secara umum, sektor pertanian di Kabupaten Jepara
menunjukkan kinerja yang cukup baik. Kami memiliki lahan baku sawah seluas
25.640 hektare,” jelas Witiarso.
Ia memaparkan, pada tahun 2025 luas panen padi di
Jepara mencapai 44.709 hektare dengan produksi sebesar 257.878 ton gabah kering
panen atau setara 139.254 ton beras. Angka tersebut menunjukkan produktivitas
rata-rata 5,2 ton per hektare.
“Sementara pada tahun 2026 hingga bulan Maret,
tercatat panen seluas 7.292 hektare dengan produksi mencapai 47.777 ton gabah
kering panen atau setara 25.799 ton beras. Data ini menunjukkan bahwa ketahanan
pangan daerah kami relatif terjaga,” pungkasnya.
Panen padi biosalin ini diharapkan menjadi solusi inovatif bagi wilayah pesisir dan lahan marginal, sekaligus memperkuat ketahanan pangan daerah maupun nasional di tengah tantangan perubahan iklim dan keterbatasan lahan produktif. (eko/redaksi)











