- Bawa Flare Hingga Miras, Puluhan Suporter Persis Solo Diamankan Polisi
- Perkuat Ketahanan Pangan, Polda Jateng Panen Raya Jagung Serentak di Boyolali
- ODGJ Lempar Batu Pengguna Jalan di Pati Diamankan Polisi
- RSUD Margono Disiapkan Jadi Pusat Layanan Kesehatan Banyumas Raya
- Info Lur! Beasiswa Santri Pemprov Jateng Masih Dibuka
- Rumah Dinas untuk Rakyat, Taj Yasin Jamu Peserta Susbanpim Banser
- Curi Motor di Laweyan Solo, Pemuda Asal Serang Banten Diringkus Polisi
- Gubernur Luthfi Blusukan ke Pasar Wage, Siapkan Revitalisasi Eks Kebakaran
- Purwokerto Half Marathon 2026, Dongkrak Ekonomi dari Ajang Lomba Lari
- Meriah, 6.000 Pelari Ikuti Purwokerto Half Marathon 2026
Uji Coba Petasol, BRIN Dorong Jepara Jadi Laboratorium Hidup Inovasi Energi
Keterangan Gambar: Pemkab Jepara bersama Badan Riset dan Inovasi Nasional melaksanakan uji coba bahan bakar alternatif Petasol di Desa Bandungharjo, Kecamatan Donorojo, Jumat (24/4/2026).
Jepara, infojateng.id – Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Jepara bersama Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) melaksanakan uji coba bahan bakar alternatif Petasol di Desa Bandungharjo, Kecamatan Donorojo, Jumat (24/4/2026).
Inovasi ini menjadi langkah konkret dalam menjawab
tantangan krisis energi sekaligus mengatasi persoalan sampah plastik.
Kepala BRIN, Arif Satria, menjelaskan bahwa Petasol
merupakan bahan bakar yang diproduksi dari limbah plastik yang sudah tidak
dapat didaur ulang atau memiliki nilai rendah (low value).
Menurutnya, inovasi ini hadir sebagai respons atas
berbagai tantangan global, khususnya ancaman krisis energi dan meningkatnya
volume sampah plastik.
“Petasol ini adalah terobosan BRIN dalam merespons
situasi terkini, terutama ancaman krisis energi. Kami memanfaatkan limbah
plastik yang sudah tidak bisa didaur ulang menjadi bahan bakar yang
bermanfaat,” ujar Arif.
Ia menambahkan, Petasol dapat digunakan untuk bahan
bakar perahu nelayan serta alat-alat pertanian. Selain lebih hemat dan
terjangkau, inovasi ini juga memberikan solusi nyata terhadap persoalan
lingkungan.
“Yang terpenting, ini bukan hanya soal energi murah,
tetapi juga menyelesaikan masalah sampah,” imbuhnya.
Arif juga mengungkapkan bahwa produksi Petasol
menggunakan teknologi Fast Pyrolysis 5.0 (Faspol 5.0). Teknologi tersebut telah
diterapkan di 84 kabupaten dan kota di Indonesia. Untuk menghasilkan satu liter
bahan bakar Petasol, dibutuhkan sekitar satu kilogram limbah plastik.
Produk ini juga telah memenuhi standar dari Lemigas
dan dipasarkan dengan harga sekitar Rp10.000 per liter.
Lebih lanjut, BRIN melihat potensi besar Kabupaten
Jepara untuk menjadi pusat pengembangan inovasi.
“Ke depan, Jepara sangat potensial dijadikan living
lab atau laboratorium hidup bagi BRIN untuk mendiseminasikan berbagai inovasi
yang kami miliki,” jelasnya.
Sementara itu, Bupati Jepara, Witiarso Utomo,
menyambut baik uji coba Petasol tersebut. Ia menilai inovasi ini sangat relevan
dengan kebutuhan masyarakat, khususnya nelayan dan petani di wilayah pesisir
dan pedesaan.
“Ini adalah inovasi yang sangat luar biasa. Tidak
hanya menjawab kebutuhan energi masyarakat, tetapi juga menjadi solusi konkret
dalam mengurangi sampah plastik di lingkungan kita,” ujar Witiarso.
Bupati juga menegaskan komitmen Pemerintah Kabupaten
Jepara untuk mendukung penuh pengembangan teknologi ini. Ia berharap kehadiran
Petasol dapat meningkatkan kesejahteraan masyarakat sekaligus memperkuat
ketahanan energi daerah.
Menurutnya, jika inovasi ini dikembangkan secara
berkelanjutan, Jepara tidak hanya akan menjadi daerah pengguna, tetapi juga
pusat inovasi energi berbasis lingkungan yang dapat menjadi contoh bagi daerah
lain di Indonesia.
Dengan uji coba ini, Jepara menegaskan langkah
progresif menuju masa depan energi yang lebih bersih, terjangkau, dan
berkelanjutan, sekaligus memperkuat sinergi antara pemerintah daerah dan
lembaga riset nasional. (eko/redaksi)











