- Bawa Flare Hingga Miras, Puluhan Suporter Persis Solo Diamankan Polisi
- Perkuat Ketahanan Pangan, Polda Jateng Panen Raya Jagung Serentak di Boyolali
- ODGJ Lempar Batu Pengguna Jalan di Pati Diamankan Polisi
- RSUD Margono Disiapkan Jadi Pusat Layanan Kesehatan Banyumas Raya
- Info Lur! Beasiswa Santri Pemprov Jateng Masih Dibuka
- Rumah Dinas untuk Rakyat, Taj Yasin Jamu Peserta Susbanpim Banser
- Curi Motor di Laweyan Solo, Pemuda Asal Serang Banten Diringkus Polisi
- Gubernur Luthfi Blusukan ke Pasar Wage, Siapkan Revitalisasi Eks Kebakaran
- Purwokerto Half Marathon 2026, Dongkrak Ekonomi dari Ajang Lomba Lari
- Meriah, 6.000 Pelari Ikuti Purwokerto Half Marathon 2026
Dinas Arpus Cilacap Gelar Sarasehan Kearsipan, Bedah Sejarah Bunga Wijayakusuma
Keterangan Gambar: Dinas Arpus Kabupaten Cilacap menyelenggarakan Sarasehan Kearsipan dalam rangka memperingati Hari Kearsipan ke-55 di Gedung Diklat Praja Kabupaten Cilacap, Selasa (26/5/2026). Dok. Diskominfo Cilacap
Cilacap, infojateng.id - Dinas Kearsipan dan Perpustakaan (Arpus) Kabupaten Cilacap menyelenggarakan Sarasehan Kearsipan dalam rangka memperingati Hari Kearsipan ke-55 Tingkat Kabupaten Cilacap Tahun 2026.
Acara yang mengusung tema “Menguatkan Identitas Daerah
melalui Arsip dan Sejarah untuk Generasi Masa Depan” ini digelar di Gedung
Diklat Praja Kabupaten Cilacap, Selasa (26/5/2026).
Kegiatan
sarasehan tersebut dihadiri oleh 65 peserta yang terdiri dari guru-guru SMP dan
SMA/sederajat di Kabupaten Cilacap, komunitas pemerhati sejarah Tjilatjap
History, serta sejumlah tamu undangan terkait.
Dalam
laporan penyelenggara yang disampaikan oleh Kepala Bidang Pembinaan dan
Pengelolaan Arsip Dinamis Dinas Arpus Cilacap, Erni Suharti, disebutkan bahwa
peringatan Hari Kearsipan tahun ini merujuk pada Surat Edaran Kepala ANRI Nomor
4 Tahun 2026.
Adapun tema
lokal yang diangkat diselaraskan dengan tema nasional, yaitu “Empowering the
Future: Kearsipan untuk Memberdayakan Masa Depan menuju Indonesia Emas 2045”.
Erni
menambahkan, sebelum puncak sarasehan hari ini, Dinas Arpus telah sukses
melaksanakan sejumlah rangkaian kegiatan edukatif sejak tanggal 18 hingga 22
Mei 2026.
Rangkaian
tersebut meliputi layanan Destinasi Wisata Arsip Ramah Anak (DEWI ASRAMA),
pembagian brosur kearsipan yang dibarengi Gerakan Membaca Buku Serentak Selama
15 Menit di Alun-Alun dan Titik 0 Cilacap, serta Lomba Menyanyi Mars Kearsipan
antar OPD.
“Kami
berharap melalui peringatan Hari Kearsipan ini dapat semakin meningkatkan
kesadaran akan pentingnya arsip sebagai bagian dari identitas daerah serta
memperkuat budaya tertib arsip di lingkungan Pemerintah Kabupaten Cilacap
maupun masyarakat secara luas,” ucap Erni.
Kepala Dinas
Arpus Kabupaten Cilacap, Achmad Fauzi, dalam keynote speech berjudul
“Peran Kearsipan Daerah dalam Menjaga Memori Kolektif dan Identitas Kabupaten
Cilacap”, mengajak masyarakat mengubah paradigma lama yang memandang sebelah
mata dokumen-dokumen lama yang ada.
“Selama ini
kita sering menganggap arsip itu bukan sesuatu yang penting. Padahal, arsip
sebenarnya berfungsi sebagai memori kolektif daerah yang merekam berbagai
peristiwa penting, mulai dari sejarah, pemerintahan, pembangunan, hingga
kehidupan masyarakat. Melalui arsip, generasi sekarang dapat memahami identitas
dan jati diri daerah secara utuh,” kata Achmad Fauzi.
Dia
menambahkan bahwa Dinas Arpus selaku lembaga kearsipan daerah berkomitmen penuh
untuk mengelola, merawat, dan melestarikan arsip statis yang bernilai sejarah.
“Jika arsip
sejarah ini bisa kita jaga dan kelola dengan baik, kita dapat mempelajari
bagaimana para pendahulu kita di dalam kehidupannya. Kami mengharapkan saran
serta masukan, karena bisa saja kejadian hari ini adalah sejarah di masa
datang,” tuturnya.
Memasuki
sesi diskusi yang dipandu oleh moderator Sekar Yuliati, sarasehan secara khusus
membedah eksistensi Bunga Wijayakusuma yang menjadi elemen utama logo daerah.
Mengutip
Buku Sejarah Cilacap tahun 1973, Sekar menjelaskan bahwa secara fisik bunga
gaib penanda kewibawaan raja tersebut konon berada di Pulau Majeti,
Nusakambangan.
“Bunga
Wijayakusuma mengandung pesan magis dan spiritual dimana disebutkan dalam buku
tersebut, Pakubuwono Ke IX (mengatakan), “Apabila seseorang akan mempunyai
kewibawaan atau kekuatan lahir serta batinnya juga dianggap sah sebagai
pemimpin kerajaan, petiklah Bunga Wijayakusuma di sebuah pulau karang, Pulau
Majeti”, dan pesan spiritual tersebut tetap dilaksanakan,” ungkap Sekar.
Bunga
Wijayakusuma, lanjut dia, juga menjadi salah satu elemen dalam logo pemerintah
kabupaten Cilacap yang telah ditetapkan dalam perda kabupaten Cilacap.
Narasumber
pertama, Thomas Sutasman selaku Ketua Komunitas Tjilatjap History, memaparkan
materi “Perjalanan Panjang Memetik Bunga Wijayakusuma”.
Ia mengupas
tuntas catatan botani serta aspek historis pencarian bunga legendaris tersebut,
termasuk kisah utusan Pangeran Diponegoro dalam Babad Kedung Kebo yang mencari
kembang Wijayakusuma ke ujung selatan Jawa demi menangkal keburukan dan
memperoleh kemenangan.
Sementara
itu, Ketua PAKASA (Paguyuban Kawula Keraton Surakarta) Wijayakusuma Kabupaten
Cilacap, KRAT Rudiyanto Harsonagoro, sebagai narasumber kedua membawakan materi
“Riwayat Sekar Wijayakusuma dan Kiprah Perintis Cilacap”.
Utusan
Keraton Surakarta tersebut memaparkan rekam jejak sejarah berbasis serat kuno
seperti Serat Poestaka Radja Purwa, termasuk mencermati peristiwa sakral pada
akhir tahun 1939 ketika para utusan Keraton Surakarta dikirim oleh Sinuwun
Pakubuwono XI untuk melaksanakan laku spiritual memetik kembang Wijayakusuma di
Pulau Karang Bandung, Cilacap.
Melalui
sarasehan sejarah berbasis arsip otentik ini, Pemerintah Kabupaten Cilacap
berharap budaya tertib arsip semakin mengakar di lingkungan birokrasi maupun
masyarakat luas.
Dengan
demikian, kekayaan sejarah lokal dapat terus diselamatkan sebagai warisan
pengetahuan yang tak ternilai bagi generasi penerus bangsa.
Dalam kegiatan ini dilakukan juga penyerahan penghargaan dan hadiah kepada para pemenang Lomba Menyanyi Mars Kearsipan. (eko/redaksi)










