- Bawa Flare Hingga Miras, Puluhan Suporter Persis Solo Diamankan Polisi
- Perkuat Ketahanan Pangan, Polda Jateng Panen Raya Jagung Serentak di Boyolali
- ODGJ Lempar Batu Pengguna Jalan di Pati Diamankan Polisi
- RSUD Margono Disiapkan Jadi Pusat Layanan Kesehatan Banyumas Raya
- Info Lur! Beasiswa Santri Pemprov Jateng Masih Dibuka
- Rumah Dinas untuk Rakyat, Taj Yasin Jamu Peserta Susbanpim Banser
- Curi Motor di Laweyan Solo, Pemuda Asal Serang Banten Diringkus Polisi
- Gubernur Luthfi Blusukan ke Pasar Wage, Siapkan Revitalisasi Eks Kebakaran
- Purwokerto Half Marathon 2026, Dongkrak Ekonomi dari Ajang Lomba Lari
- Meriah, 6.000 Pelari Ikuti Purwokerto Half Marathon 2026
Jateng Kejar Investasi Energi Hijau Demi Target Listrik Capai 13 Gigawatt

Keterangan Gambar : Kepala Dinas Penanaman Modal dan Pelayanan Terpadu Satu Pintu (DPMPTSP) Jawa Tengah, Sakina Rosellasari.
Semarang, infojateng.id – Jawa Tengah terus membuka keran lebar-lebar bagi investor energi terbarukan. Di tengah lonjakan kebutuhan listrik dan transisi menuju energi bersih, Jawa Tengah menawarkan potensi besar hingga 13 gigawatt yang siap digarap, sekaligus membuka peluang bagi pelaku industri hijau.
Pemerintah Provinsi (Pemprov) Jawa Tengah terus
menawarkan dan menarik investasi sektor energi baru terbarukan (EBT). Salah
satu perkembangan terbaru adalah beroperasinya pabrik perakitan kendaraan
listrik (electric vehicle/EV) di Kabupaten Magelang yang diresmikan Presiden
Prabowo pada awal April 2026.
Kepala Dinas Penanaman Modal dan Pelayanan Terpadu
Satu Pintu (DPMPTSP) Jawa Tengah, Sakina Rosellasari, mengungkapkan, nilai
investasi sektor energi terbarukan pada periode 2024-2025 mencapai Rp 7,1
triliun. Rinciannya, penanaman modal pada 2024 sebesar Rp 5,4 triliun,
sementara pada 2025 senilai Rp 1,4 triliun.
Baca Lainnya :
- Kucurkan Rp 33,2 Miliar, Pemprov Jateng Dukung Program TMMD 2026 0
- Edarkan Sabu Modus “Alamat Jatuh”, Pemuda Asal Jakarta Ditangkap Polisi0
- Rumpelsos Sultan Fatah Demak Layani Orang Terlantar Hingga ODGJ0
- Temanggung Perkuat Antisipasi Dampak Iklim terhadap Komoditas Kopi dan Cengkeh0
- Persebi Boyolali Lolos ke Putaran Liga 4 Nasional, Targetkan Naik Kasta Liga 30
“Penurunan nilai investasi pada 2025 dibandingkan 2024
terjadi karena pergeseran fase. Tahun 2024 didominasi pada tahap pembangunan
dan belanja modal. Sedangkan pada 2025 sudah masuk tahap operasional, pabrik
sudah mulai beroperasi,” jelas Sakina, Rabu (22/4/2026).
Dijelaskan, sejumlah proyek strategis pada sektor
industri telah berjalan, di antaranya pembangunan pabrik solar cell dan baterai
di Kawasan Ekonomi Khusus (KEK) Industropolis Batang serta KEK Kendal.
“Selain itu, yang baru diresmikan Presiden yakni
pabrik perakitan kendaraan listrik di Magelang, kini mulai beroperasi
memproduksi bus, truk, hingga forklift listrik,” ungkap Sakina.
Untuk mempercepat arus investasi, Pemprov Jateng
melakukan inventarisasi potensi EBT di 35 kabupaten/kota. Data tersebut
kemudian dikemas dalam skema Investment Project Ready to Offer (IPRO) dan
dipromosikan melalui forum investasi seperti Central Java Investment Business
Forum (CJIBF).
Sakina menambahkan, peluang investasi hijau yang masih
terbuka lebar mencakup pengembangan panas bumi di Banjarnegara dan Wonosobo,
energi angin, serta pengelolaan sampah berbasis energi di berbagai daerah.
Hal itu selaras dengan arahan Gubernur Jawa Tengah,
Ahmad Luthfi, dan Wakil Gubernur Taj Yasin Maimoen, untuk memajukan sektor
energi hijau di Jateng.
Sementara itu, Analis Institute for Essential Services
Reform (IESR), Zakki Muwafiq, menyebut tiga sektor EBT paling prospektif dan
layak dikembangkan, yakni Pembangkit Listrik Tenaga Surya (PLTS), Pembangkit
Listrik Tenaga Bayu (PLTB), dan Pembangkit Listrik Tenaga Mikrohidro (PLTMH).
“Potensi terbesar ada pada PLTS yang tersebar di 12
lokasi di 10 kabupaten, dengan kapasitas potensi energi mencapai 13 gigawatt,”
ujarnya.
Kondisi ini sejalan dengan peningkatan konsumsi
listrik di Jawa Tengah. Berdasarkan data Rencana Usaha Penyediaan Tenaga
Listrik (RUPTL) PLN, konsumsi listrik di Jateng meningkat 4,5 persen dalam satu
dekade terakhir.
“Bahkan dalam empat tahun terakhir terjadi peningkatan
signifikan hingga 5,3 persen. Ada kebutuhan yang perlu disuplai oleh EBT,
sehingga ini menjadi peluang besar,” ungkap Zakki.
Peningkatan kebutuhan energi tersebut dinilai menjadi
momentum strategis bagi pengembangan EBT di Jawa Tengah. Selain mendukung
ketahanan energi, langkah ini juga memperkuat posisi daerah sebagai tujuan
utama investasi hijau di Indonesia. (eko/redaksi)











