- Bawa Flare Hingga Miras, Puluhan Suporter Persis Solo Diamankan Polisi
- Perkuat Ketahanan Pangan, Polda Jateng Panen Raya Jagung Serentak di Boyolali
- ODGJ Lempar Batu Pengguna Jalan di Pati Diamankan Polisi
- RSUD Margono Disiapkan Jadi Pusat Layanan Kesehatan Banyumas Raya
- Info Lur! Beasiswa Santri Pemprov Jateng Masih Dibuka
- Rumah Dinas untuk Rakyat, Taj Yasin Jamu Peserta Susbanpim Banser
- Curi Motor di Laweyan Solo, Pemuda Asal Serang Banten Diringkus Polisi
- Gubernur Luthfi Blusukan ke Pasar Wage, Siapkan Revitalisasi Eks Kebakaran
- Purwokerto Half Marathon 2026, Dongkrak Ekonomi dari Ajang Lomba Lari
- Meriah, 6.000 Pelari Ikuti Purwokerto Half Marathon 2026
Petani Grobogan Sambat Sawah 1,5 Hektare Mangkrak Usai Lumpur Banjir, Sekda Jateng Respons Cepat
Grobogan, infojateng.id - Dampak jebolnya Tanggul Sungai Tuntang pada Februari lalu di Desa Tinanding, Kecamatan Godong, Kabupaten Grobogan, ternyata masih menyisakan pilu bagi sektor pertanian setempat.
Hingga kini, sejumlah lahan produktif warga belum
sepenuhnya pulih dan tidak dapat digarap.
Kondisi tersebut terungkap saat Sekretaris Daerah
(Sekda) Provinsi Jawa Tengah, Sumarno, melakukan dialog dengan warga di sela
acara Penyerahan Bantuan Kemasyarakatan Presiden RI di Halaman Masjid Roudlotul
Jannah, Desa Tinanding, Rabu (27/5/2026).
Sumarsih, salah seorang petani setempat, memanfaatkan
momentum tersebut untuk mengadu langsung kepada Sekda.
Ia mengeluhkan lahan sawah miliknya seluas 1,5 hektare
yang kini mangkrak. Pascabanjir, material lumpur yang mengendap membuat elevasi
sawahnya menjadi jauh lebih tinggi dari lahan sekitarnya, sehingga air irigasi
tidak dapat mengalir masuk.
"Saya pengin sawahnya dikeruk saja supaya bisa
ditanam lagi," kata Sumarsih di hadapan Sekda.
Mendengar keluhan yang menyangkut hajat hidup petani
tersebut, Sekda Sumarno tidak tinggal diam.
Ia bersama jajaran terkait langsung bergerak melakukan
pengecekan ke lokasi sawah milik Sumarsih untuk melihat langsung tingkat
keparahan sedimentasi lumpur tersebut.
"Desa Tinanding kemarin terdampak tanggul jebol, ada sawah warga yang terkena
lumpur. Sampai saat ini belum bisa beraktivitas untuk tanam," ujarnya
seusai meninjau lokasi.
Sumarno menegaskan bahwa penanganan lahan ini menjadi
prioritas karena menyangkut sumber mata pencaharian utama warga. Dari hasil
tinjauan lapangan, langkah kedaruratan yang paling rasional adalah melakukan
pengerukan tanah.
"Solusinya ya harus dikeruk untuk disamakan
elevasinya dengan sawah di sebelahnya, supaya air bisa menggenangi area sawah
yang sekarang tertimbun," jelasnya.
Lebih lanjut, Sumarno memaparkan berdasarkan Rencana Tata Ruang Wilayah
(RTRW), kawasan Desa Tinanding merupakan zona Lahan Sawah Dilindungi (LSD) yang
memiliki tingkat kesuburan sangat tinggi.
Terlebih, saluran yang jebol beberapa waktu lalu
merupakan saluran induk irigasi yang vital bagi pertanian di Kabupaten
Grobogan.
"Kalau dari RTRW pasti ini masuk LSD karena
memang ini daerah subur. Bisa dilihat di sebelah-sebelahnya, sekarang juga
masih ditanami dan tumbuh cukup hijau," tambahnya.
Atas dasar itulah, Pemprov Jateng melalui tim
perencanaan berkomitmen untuk segera merumuskan langkah teknis penanganan
pasca-bencana ini.
"Nanti akan kami koordinasikan lebih lanjut. Tapi
kita dari tim perencanaan berkomitmen untuk menyelesaikan masalah ini, karena
ini benar-benar mata pencaharian dari pemilik tanah," pungkas Sumarn (eko/redaksi)











