- Bawa Flare Hingga Miras, Puluhan Suporter Persis Solo Diamankan Polisi
- Perkuat Ketahanan Pangan, Polda Jateng Panen Raya Jagung Serentak di Boyolali
- ODGJ Lempar Batu Pengguna Jalan di Pati Diamankan Polisi
- RSUD Margono Disiapkan Jadi Pusat Layanan Kesehatan Banyumas Raya
- Info Lur! Beasiswa Santri Pemprov Jateng Masih Dibuka
- Rumah Dinas untuk Rakyat, Taj Yasin Jamu Peserta Susbanpim Banser
- Curi Motor di Laweyan Solo, Pemuda Asal Serang Banten Diringkus Polisi
- Gubernur Luthfi Blusukan ke Pasar Wage, Siapkan Revitalisasi Eks Kebakaran
- Purwokerto Half Marathon 2026, Dongkrak Ekonomi dari Ajang Lomba Lari
- Meriah, 6.000 Pelari Ikuti Purwokerto Half Marathon 2026
KopiFest 2026 Sumanding, Bupati Witiarso Dorong Kopi Jepara Dikenal Lebih Luas
Keterangan Gambar: Bupati Jepara Witiarso Utomo menggelar dialog interaktif bertajuk “Ngopi Bareng Bupati Jepara” bersama warga Desa Sumanding dan masyarakat sekitar di kawasan Hutan Pinus Buper Sumanding, Jumat (22/5/2026) malam.
Jepara, infojateng.id - Masih dalam rangkaian Sumanding KopiFest 2026, Bupati Jepara Witiarso Utomo menggelar dialog interaktif bertajuk “Ngopi Bareng Bupati Jepara” bersama warga Desa Sumanding dan masyarakat sekitar di kawasan Hutan Pinus Buper Sumanding, Jumat (22/5/2026) malam.
Kegiatan berlangsung hangat dan penuh antusiasme masyarakat.
Acara diawali dengan pengenalan lebih dalam mengenai kopi asli Jepara yang
dipandu Barista Jepara, Afif Pancasetyawan.
Dalam kesempatan tersebut, Afif memperkenalkan Kopi Robusta
Sumanding sebagai salah satu kopi unggulan Jepara yang berasal dari lereng
Pegunungan Muria.
Menurutnya, Kopi Robusta Sumanding memiliki karakter cita
rasa yang khas dengan aroma kompleks, tingkat keasaman yang menyegarkan
bernuansa citrus dan fruity, serta tekstur lembut yang ramah di lambung bagi
para penikmat kopi.
Dialog interaktif kemudian dipandu Direktur Perusda Jepara,
Wieke, bersama Barista Jepara, Afif Pancasetyawan. Dalam suasana santai, Bupati
Jepara turut berbagi cerita mengenai kedekatannya dengan budaya ngopi sejak
kecil.
“Dari kecil saya sudah akrab dengan kopi karena di desa
sering nongkrong bersama teman-teman di angkringan sambil ngopi,” ujar
Witiarso.
Sementara itu, Afif menjelaskan bahwa kualitas kopi yang
baik tidak hanya ditentukan dari aroma dan rasa, tetapi juga dipengaruhi
kualitas bibit serta tingkat kematangan buah kopi saat dipanen.
“Kalau ingin menghasilkan kopi berkualitas, pemetikan buah
harus benar-benar matang. Itu sangat mempengaruhi rasa akhir kopi,” jelasnya.
Bupati Jepara juga mendorong para petani dan pelaku usaha
kopi untuk terus menjaga kualitas produksi agar kopi Jepara semakin diminati
pasar yang lebih luas.
“Peminat dan donatur yang melirik kopi Jepara sudah sangat
banyak. Harapan saya, selain dikenal sebagai kota ukir dan furniture, Jepara
juga dikenal lewat Kopi Tempur, Kopi Sumanding, Kopi Batealit, dan desa-desa penghasil
kopi lainnya,” katanya.
Selain membahas potensi kopi, forum dialog tersebut juga
menjadi wadah aspirasi masyarakat. Petinggi Desa Sumanding, Afif, menyampaikan
bahwa sekitar 400 kepala keluarga di wilayahnya memiliki kebun kopi.
Ia berharap momentum Sumanding KopiFest mampu meningkatkan
nilai jual kopi lokal melalui pengolahan dan pengemasan yang lebih baik
sehingga dapat menarik lebih banyak investor maupun pembeli dari luar daerah.
“Kami berharap ada pelatihan SDM mulai dari proses panen
hingga pemasaran, termasuk pembentukan asosiasi pengusaha kopi di Kabupaten
Jepara,” ungkapnya.
Aspirasi serupa juga disampaikan perwakilan Taruna Tani
Mapan (Tampan) Desa Sumanding, Lutfi. Ia menjelaskan kelompoknya saat ini
mengelola sekitar 5.000 pohon kopi dan aktif dalam pengolahan hasil panen.
Menurutnya, dukungan alat roasting yang lebih memadai serta
kendaraan operasional pemasaran akan sangat membantu pengembangan usaha kopi
lokal.
Menanggapi berbagai masukan tersebut, Bupati Jepara
menyampaikan komitmennya dalam mendukung pengembangan infrastruktur dan kawasan
wisata kopi di wilayah Sumanding dan sekitarnya.
Ia mengungkapkan, Pemerintah Kabupaten Jepara telah
menyiapkan anggaran sekitar Rp4,5 miliar untuk pembangunan jalan
Damarwulan–Tempur. Sementara untuk akses Duplak Sumanding akan diawali dengan
pengerasan jalan sebelum dilakukan peningkatan lanjutan.
“Harapan kami, jalur Duplak Sumanding nantinya bisa
berkembang menjadi kawasan wisata alam dan wisata kopi yang menarik dan tidak
kalah dengan daerah lain,” pungkasnya. (eko/redaksi)










